• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Ekonomi>Bisnis Internasional>Indonesia Harus Memanfaatkan AFTA, Analisis Danareksa.

.

Indonesia Harus Memanfaatkan AFTA, Analisis Danareksa.

oleh : PapapFarras     

Pengarang : Purbaya Yudhi Sadewa
Negara-negara ASEAN telah setuju mewujudkan kawasan perdagangan bebas. Namun, tampaknya Indonesia belum bisa memanfaatkan
secara optimal potensi pasar ASEAN maupun pasar Internasional lainnya. Indonesia harus lebih waspada, bila tidak, perjanjian perdagangan bebas regional lain, seperti APEC, akan membuat pasar kita jadi sasaran empuk bagi negara lain.
Disisi lain, berita keperkasaan daya saing produk China amat mendominasi media nasional dalam beberapa tahun ini. Akibatnya, kita pun amat mengkhawatirkan dominasi produk China di pasar domestik. Tingginya daya saing produk China memang patut diwaspadai karena hal tersebut akan mempersulit peluang produk Indonesia untuk menembus atau untuk bertahan di pasar internasional maupun pasar domestik.

Kemampuan Negara – Negara ASEAN.


Ada hal yang sedikit terabaikan oleh media maupun pengambil keputusan di negeri ini, yakni mereka kurang memperhatikan ancaman dan kemampuan negara-negara ASEAN lain dalam melakukan penetrasi ke pasar Indonesia. Kemampuan melakukan penetrasi pasar ini terutama ditunjang juga oleh adanya perjanjian perdagangan bebas antar Negara-negara ASEAN (AFTA).
Ada banyak dampak suatu perjanjian perdagangan bebas, antara lain spesialisasi dan peningkatan volume perdagangan. Sebagai contoh, ada dua negara yang dapat memproduksi dua barang, yaitu A dan B, tetapi kedua negara tersebut membutuhkan barang A dan B untuk dikonsumsi. Secara teoritis, perdagangan bebas antara kedua negara tersebut akan membuat negara yang memiliki keunggulan komparatif (lebih efisien) dalam memproduksi barang A (misalnya Negara I) akan membuat hanya barang A, mengekspor sebagian barang A ke Negara II, dan mengimpor barang B dari Negara II. Sebaliknya, negara II akan memproduksi hanya barang B, mengekspor sebagian barang B ke negara I, dan akan mengimpor sebagian barang A dari negara I. Akibatnya, tingkat produksi secara keseluruhan akan meningkat (karena masing-masing negara mengambil spesialisasi untuk memproduksi barang yang mereka dapat produksi dengan lebih efisien) dan pada saat yang bersamaan volume perdagangan antara kedua negara tersebut akan meningkat juga (dibandingkan dengan apabila kedua negara tersebut memproduksi kedua jenis barang dan tidak melakukan perdagangan).

Saat ini AFTA sudah hampir seluruhnya diimplementasikan. Dalam perjanjian perdagangan bebas tersebut, tarif impor barang antarnegara ASEAN tersebut secara berangsur-angsur telah dikurangi. Saat ini tarif impor lebih dari 99 persen dari barang-barang yang termasuk dalam daftar Common Effective Preferential Tariff (CEPT) di negara-negara ASEAN-6 (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand) telah diturunkan menjadi 5 persen hingga 0 persen.


Sesuai dengan teori yang dibahas diatas, AFTA tampaknya telah dapat meningkatkan volume perdagangan antarnegara ASEAN secara signifikan. Ekspor Thailand ke ASEAN, misalnya, mengalami pertumbuhan sebesar 86,1 persen dari tahun 2000 ke tahun 2005. Sementara itu, ekspor Malaysia ke negara-negara ASEAN lainnya telah mengalami kenaikan sebesar 40,8 persen dalam kurun waktu yang sama.

Adanya AFTA telah memberikan kemudahan kepada negara-negara ASEAN untuk memasarkan produk-produk mereka di pasar ASEAN dibandingkan dengan negara-negara non-ASEAN. Untuk pasar Indonesia, kemampuan negara-megara ASEAN dalam melakukan penetrasi pasar kita bahkan masih lebih baik dari China. Hal ini terlihat dari kenaikan pangsa pasar ekspor negara ASEAN ke Indonesia yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pangsa pasar China di Indonesia.


Pada tahun 2001 pangsa pasar ekspor negara-negara ASEAN di Indonesia mencapai 17,6 persen. Implementasi AFTA telah meningkatkan ekspor negara-negara ASEAN ke Indonesia. Akibatnya pangsa pasar negara-negara ASEAN di Indonesia meningkat dengan tajam. Dan pada tahun 2005 pangsa pasar negara-negara ASEAN di Indonesia mencapai 29,5 persen.

Berbeda dengan anggapan kita selama ini bahwa ternyata daya penetrasi produk-produk China di Indonesia tidak setinggi daya penetrasi produk-produk dari negara-negara ASEAN. Pada tahun 2001 China menguasai sekitar 6.0 persen dari total impor Indonesia. Pada tahun 2005 baru mencapai 10,1 persen, masih jauh lebih rendah dari pangsa pasar negara-negara ASEAN.


Jadi, saat ini produk-produk dari negara ASEAN lebih menguasai pasar Indonesia dibandingkan dengan produk-produk dari China. Sebaliknya, berbeda dengan negara-negara ASEAN yang lain, Indonesia tampaknya belum terlalu memperhatikan potensi pasar ASEAN dan lebih menarik dengan pasar-pasar tradisional, seperti Jepang dan Amerika Serikat. Hal ini terlihat dari pangsa pasar ekspor kita ke negara-negara ASEAN yang tidak mengalami kenaikan yang terlalu signifikan sejak AFTA dijalankan. Pada tahun 2000, misalnya, pangsa pasar ekspor Indonesia di Malaysia mencapai 2,8 persen. Dan pada tahun 2005 hanya meningkat menjadi 3,8 persen. Hal yang sama terjadi di pasar Negara-negara ASEAN lainnya.

Indonesia Harus Memanfaatkan AFTA.


Diskusi diatas memperlihatkan bahwa AFTA dapat meningkatkan volume perdagangan antarnegara ASEAN secara signifikan. Negara-negara tetangga telah cukup jeli dalam memanfaatkan perjanjian tersebut untuk melakukan penetrasi pasar Indonesia. Sayangnya, Indonesia kurang mengoptimalkan kemudahan yang diberikan AFTA dalam mengakses pasar negara-negara ASEAN yang lain. Pada saat ini pasar kita cenderung menjadi sasaran empuk bagi negara-negara ASEAN yang lain.

Hal ini perlu diperhatikan dan diubah. Antara lain, Indonesia harus memperbaiki iklim investasi, menjaga suku bunga rendah, meningkatkan daya saing, dan mensosialisasikan fasilitas-fasilitas yang diberikan AFTA maupun potensi pasar yang tersedia di pasar ASEAN ke pelaku bisnis. Apabila tidak, Indonesia tidak akan pernah dapat memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas AFTA secara optimal. Apalagi dimasa yang akan datang ada peluang untuk diciptakan perjanjian perdagangan yang lebih besar lagi, yaitu perdagangan bebas antarnegara anggota APEC.


Bila kita tidak menarik pelajaran dari pengalaman saat ini, dimasa yang akan datang perjanjian perdagangan bebas hanya akan membuat pasar kita menjadi sasaran yang empuk bagi lebih banyak negara lagi.
Diterbitkan di: Desember 04, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.