Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Sumber Daya Manusia>Proyek Belum Rampung, Warga Merugi

Proyek Belum Rampung, Warga Merugi

oleh: ucokpengembara    
ª
 

Beberapa kali Indramayu menjadi daerah tiga besar termiskin di Jawa Barat. Dua tahun belakangan ini, tahun 2010-2011, Indramayu berada di peringkat kedua termiskin untuk wilayah Jawa Barat. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan Indramayu pada 2009 mencapai 319.630 jiwa atau 17,99 persen dari keseluruhan jumlah penduduk di Indramayu yang mencapai 1,7 juta jiwa. Angka kemiskinan di Indramayu masih berada di bawah Cirebon yang mencapai 390.54 18,22. Kemiskinan itu menyebabkan tingginya tingkat TKW di Indramayu. Padahal, di Indramayu terdapat pengilangan kekayaan alam.

Sebelum kilang minyak Balongan beroperasi, Indramayu lebih dikenal sebagai dearah penghasil padi yang menjadi salah satu tumpuan kehidupan di Jawa Barat. Pada tahun 1997 kilang minyak Balongan mulai beroperasi, hingga perlahan mengubah tumpuan perekonomian daerah Jawa Barat. Pabrik Pertaminia itu dibangun dengan biaya US$ 2,6 miliar. Keistimewaannya, pabrik ini memiliki fasilitas penghasil bensin ramah lingkungan atau bensin tanpa timbel, seperti Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina Dex.

Balongan merupakan salah satu kecamatan di Indramayu. Daerah ini menjadi tempat proses kilang minyak milik negera, Pertamina. Perjalanan dari pusat Jawa Barat, Bandung, ke Balongan Kabupaten Indramayu itu bisa mencapai waktu selama tiga jam dengan jarak yang harus ditempuh sejauh 180Km. Sementara itu, luas wilayah Kabupaten Indramayu sekitar 204.011 Ha, terdiri dari 110.877 Ha tanah sawah dan 93.134 Ha tanah kering. Kabupaten yang menjadi salah satu lintasan pantura itu terletak di pesisir utara Pulau Jawa.

Pada Maret 2011, warga mengeluhkan dana migas yang menjadi penghasil terbesar di daerah mereka. Warga yang berunjuk rasa menuntut pihak Pertamina membatalkan menyerahkan dana CSR (Comunity Social Responshibility) alias dana pembangunan lingkungan ke Pemkab Indramayu. Mereka menuntut dana CSR dari Pertamina yang diserahkan ke Pemkab Indramayu tahun ini jumlahnya Rp15 miliar. Dana tersebut penggunannya tidak jelas. Sedangkan kondisi warga Indramayu, dengan realitas kemiskinan seperti itu, sangat membutuhkan dana tersebut.

Pada tahun 2008 ada proyek besar di Pertaminan Balongan. Sebuah proyek pemanfaatan gas buang. Proyek dikerjakan oleh PT Rekayasa Industri (Rekind). Konsorsium Rekind dan Toyo Engineering, sebagai pelaksana proyek, mendapat kontrak senilai US$ 238 juta (sekitar Rp 2,13 triliun). Inilah Proyek pemanfaatan gas buang atau Residue Catalytic Cracking off Gas to Propylene Project (ROPP) PT Pertamina (Persero) di Kilang RU VI Balongan Kabupaten Indramayu. Pada Oktober 2010 diperkirakan proyek akan rampung dalam pengujicobaannya (start up). Namun, hingga Desember 2011 proyek ini belum berjalan sehingga mengakibatkan kerugian besar. Kerugian ini bukan saja bagi Pertamina, tapi kerugian ini secara parsial karena pertamina merupakan BUMN.

Proyek gas buang itu cukup menggiurkan. Pembangunan kilang ROPP merupakan suatu pengefisiensian dengan memanfaatkan gas buang dari unit pemisahan katalis residu (residue catalytic cracking), atau suatu proyek berupa teknologi pengubah gas buang menjadi propylene dengan kapastitas produksi mencapai 4.500 ton per hari. Salah satu guna propylene, bisa digunakan sebagai salah satu komposisi pembuat parfum.

Di dalamnya juga terkandung etilen, dan diperkirakan kandungan itu mencapai 50 ribu ton per tahun. Etilen merupakan senyawa kimia dari tumbuhan. Etilen biasa digunakan oleh eksportir/importir buah-buahan. Dengan senyawa ini, buah yang mentah dapat matang sesuai waktu yang ditentukan bergantung komposisi etilen yang digunakan.

Inilah kilang pengolah propylen pertama di kawasan Asia Tenggara, Pertamina Balongan. Di dalam teknologi industri, etilen akan dicampur dengan zat butana, seperti senyawa cyclonite (C4), yang kemudian menjadi 179 ribu ton propylene. Hasil produksi itu kemudian dimanfaatkan beberapa perusahaan pengolah biji plastik. Salah satunya adalah PT Polytama Propindo yang lokasinya berjarak 100 meter dengan Kilang Balongan.

Di balik keterlambatan ini, pihak Rekayasa berjanji akan memperbaiki delapan katup bocor serta mengganti katup pengontrol dengan barang baru. Sebab, ada temuan mengejutkan. 129 katup pengisolasi gagal berfungsi dari 173 unit katup.

Beberapa penguji Industri Institut Teknologi Bandung, terhadap salah satu katup, mengindikasikan komposisi materi tidak sesuai dengan spesifikasi. Kandungan kromium pada komponen disc, misalnya, cuma 16,8 persen, padahal seharusnya 18-21 persen.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar, Azwir Dainy Tara, Pertamina harus melakukan audit keterlambatan proyek tersebut yang telah merugikan beberapa pihak. Kerugian mencapai Rp.2 triliun.

“Proyek itu bernilai lebih dari Rp 2 triliun. Kenapa bisa terlambat?″ ujarnya.

Pihak-pihak berwenang dan pihak Pertamina sudah selayaknya memberikan sanksi kepada pihak PT. Rekayasa Industri. Sanksi itu bisa berupa pengurangan hak Rekind yang dihitung dari potensi kehilangan pendapatan Pertamina atas keterlambatan pengoperasian proyek tersebut.

Bila salah satu persoalannya tersendat karena biaya, jelas ini aneh. Sebab, dalam pengerjaannya, tahun 2009, ada tiga bank besar asing menguyurkan uangnya. Tiga perbankan asing itu: Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), Hong Kong Shang Hai Banking Corporation (HSBC), dan BNP Paribas. Totalnya sebesar US$ 225 juta atau Rp 2,43 triliun, untuk proyek pengembangan Kilang Pertamina.

Melihat fakta keterlambatan yang sudah berjalan setahun ini sangat miris. Padahal gas buang tersebut bisa dimanfaatkan dan diolah kembali. Bila diakumulasi dalam setahun keuntungan dari pemanfaatan gas buang itu bisa saja dialokasikan untuk kebutuhan warga Indramayu, baik kebutuhan infrastruktur maupun kebutuhan sandang pangan. Kerugian negara sama saja dengan kerugian warga sekitarnya. Sampai kapan warga Indramayu terus mendera kemiskinan di tengah-tengah pemubaziran gas alamnya? (MP)

Diterbitkan di: 20 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.