Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

A Gift From A Friend

oleh: SarwendahPD     Pengarang : Merry Riana dan Alva Tjenderasa
ª
 
Apakah Anda mengenal sosok seorang Merry Riana, pemilik bisnis besar Merry Riana Organization (MRO)? Ya, dialah wanita termuda dari Indonesia yang sukses meraup pendapatan satu juta dolar di usia 26 tahun. Bahkan, dia juga telah menjadi motivator berjenis kelamin wanita nomor 1 di Indonesia dan di Asia selama 5 tahun terakhir ini.

Adalah suatu paradoks bahwa ternyata Merry bukankah gadis dari kalangan keluarga yang sangat berada. Orang tuanya tidak memiliki banyak uang untuk mengirimnya ke Singapura, tempat di mana ia harus menjalani hidup akibat huru-hara 1998 di Indonesia. Merry hanya dibekali dengan uang seadanya dan bahan-bahan makanan sampai jangka waktu tertentu. Sampai-sampai ia harus memutuskan untuk berutang demi menyambung hidup dan membiayai keperluan-keperluan kuliahnya di Nanyang Technological University (NTU). Total utang hingga kelulusannya bahkan mencapai angka yang fantastis, $40.000.

Sebagai seorang mahasiswa fresh graduate pada saat itu, ia sadar bahwa rata-rata pendapatan yang ia terima dari bekerja di sebuah perusahaan yang bonafit adalah S2.500. Itu artinya, ia perlu menghabiskan waktu dan tenaganya selama beberapa bulan untuk menutup seluruh utangnya. Padahal, di sisi lain, ia ingin cepat-cepat menghasilkan banyak uang agar ia bisa membagi hasil jerih payahnya itu dengan keluarga, terutama orang tua sebelum keduanya mulai bertambah tua. Sesuatu yang dilematis bukan? Nah, pembaca yang budiman, jika—katakanlah—Anda berada di posisi Merry Riana, apa yang akan Anda lakukan?

Merry yang sadar akan kondisi yang sangat kontradiktif ini kemudian menghadapkan dirinya pada dua pilihan: tetap bertahan menjadi karyawan dengan pendapatan pas-pasan tetapi mapan, atau membanting stir dari seorang karyawan perusahaan menjadi seorang wirausahawan dengan dua risiko, kegagalan atau keuntungan, yang sangat besar. Untuk memilih pilihan pertama, dia sudah bisa menduga bahwa hidupnya akan tenang, terjamin, namun tidak akan bisa kaya dalam waktu singkat. Dan jikalau ia memilih pilihan kedua, ia mungkin akan bisa kaya atau bahkan bisa miskin mendadak.

Dengan ketabahan dan didorong oleh keinginan untuk meraih kebebasan finansial, Merry Riana lalu memutuskan untuk terjun ke dunia wirausaha. Meski ada beberapa orang yang meragukannya, ia tetap maju. Semangatnya kuat, tekadnya bulat, dengan restu orang tua yang sudah didapat. Merry terus bergerak meski ia harus menelan pil pahit kegagalan berkali-kali di awal perjalanan karirnya.

Sungguh menakjubkan bukan bagaimana ia bisa kukuh bertahan mengibarkan panji kewirausahaan di tengah hempasan angin zona nyaman seorang karyawan perusahaan bonafit? Mungkin pembaca bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang Merry Riana yang ketika menjadi seorang mahasiswa harus rela berutang untuk memenuhi keperluan hidup dan kuliahnya; yang juga merupakan seorang pemalu di awal tahun pertama kuliahnya; yang modal bahasa Inggrisnya pas-pasan saat kali pertama berkuliah di NTU? Anda pasti terus bertanya-tanya jika tidak membaca buku ini secara langsung.

Buku “A Gift from a Friend” ini mengupas tuntas rahasia Merry Riana berupa pemikiran yang sangat sederhana tetapi mendalam mengenai seluk-beluk kewirausahaan. Tentang teori kuda vs sapi, kura-kura vs kelinci, pipa vs ember, dan sebagainya yang telah mengispirasinya menjadi pribadi tangguh dalam meraih mimpi besarnya. Merry tidak memutus perjalanan kehidupan karirnya hanya sampai melalui buku ini, melainkan ia dengan jujurnya juga mempersilakan sesiapa saja yang memerlukan bantuannya untuk berkonsultasi meraih masa depan yang gilang-gemilang.

Salah satu daya magis buku ini adalah, buku ini tidak terkesan menggurui pembacanya. Ia memang hadir dalam format yang terbilang deskriptif. Namun, seandainya jika dicermati secara lebih mendalam, penyampaian buku ini sungguh mengandung ajakan yang halus, tegas, dan terkadang terang-terangan.

Namun, satu hal yang perlu diingat adalah, jika dalam diri Anda tidak terpatri semangat untuk berwirausaha, saya anjurkan jangan membaca buku ini karena siapa tahu justru Anda akan mengamini logika pemikiran berikut contoh-contoh serta uraian pengalaman penulis yang dijelaskan dengan tutur bahasa yang runut, terstruktur, dan super cerdas dalam buku setebal 255 halaman ini.

Salam wirausaha!

Diterbitkan di: 13 Agustus, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.