Evolusi Restoran Sebagai Makhluk Hidup Restoran adalah sebuah makhluk hidup. Apakah resto itu bakal
sehat atau tidak, itu tergantung kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan.
Berdasarkan preferensi lingkungan atau konsumen, restoran itu ada 3 jenis:
1. Special Destination
2. Casual Destination
3. Impulsive
Special Destination adalah restoran yang mengandalkan mayoritas pelanggannya datang karena secara khusus memang pengin makan disana. Contohnya: Angke, Pondok Laguna, Sariwangi, Dim Sum Hotel Mulia, Planet Hollywood.
Resto ini bisa rame sekali atau sepi sekali, type konsumennya sedikit, dan umumnya memiliki jenis makanan yang spesifik. Apabila sudah established, resto ini tidak terlalu bergantung pada lokasi (jika dibandingkan dengan kedua jenis resto lainnya).
Biasanya pada hari-hari weekends & holiday rame, dan hari biasa tidak terlalu rame. Untuk bisa rame atau survive, resto jenis ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa established dan jumlah potensial consumer yang banyak (misalnya, Angke) atau yang terkumpul dalam satu tempat (misalnya, Dim Sum Mulia). Resto ini harus bisa menimbulkan kesan yang mendalam pada para konsumennya untuk membangun sebuah hubungan yang baik.
Jenis marketing yang paling cocok: Public Relation; mulut-ke-mulut, membangun sebuah hubungan jangka panjang.
Casual Destination adalah restoran yang mayoritas konsumennya makan disana sehari-hari. Contoh: Kentucky, Mac. Donald, Restoran-restoran padang pada umumnya.
Umumnya restoran type ini sudah memiliki dasar yang cukup kuat untuk bisa survive. Lokasi penting karena sangat tergantung pada traffic. Namun persaingan dalam restoran jenis ini paling keras. Kekuatannya sangat tergantung pada kemampuannya adaptasi dengan lingkungan sekitar dan selera target konsumennya. Apabila restoran ini bisa diterima oleh masyarakat sekitarnya, maka sudah pasti rame. Kelemahannya adalah, restoran yang ada dalam jenis ini tidak memiliki branding yang kuat, maka akan sangat mudah dijiplak.
Jenis marketing yang paling cocok: Iklan dan special promo dari waktu ke waktu untuk mengingatkan customer dan memperkuat branding.
Impulsive adalah restoran yang mayoritas konsumennya makan/minum karena dorongan hati dan bukan karena awalnya memang mau makan disana. Kebanyakan sifatnya cafe dan tidak menyajikan makanan yang lengkap. Contohnya: Starbucks, Excelso, J-Co.
Restoran type ini sangat-sangat mengandalkan traffic. Untuk bisa sukses, lokasinya harus ada di tempat banyak orang lewat berjalan kaki. Konsep dan branding jelas harus kuat dan mencolok apabila ingin ‘memenangkan hati’ konsumen saat itu juga. Kelemahannya adalah kesempatan mendapatkan loyal customer tidak terlalu besar, dan cenderung komunitas akan menjadi bosan setelah sekian jangka waktu. Karena itulah permainan konsep yang trendy dan baru menjadi sangat penting dalam restoran jenis ini.
Karena strong selling point dari resto jenis ini adalah konsep atau atmosfernya, maka jenis marketing yang paling cocok: Events khusus (dan renovasi apabila perlu) untuk mengundang crowd dan memperkuat image.
Beberapa restoran ada yang telah mengalami ‘evolusi’, misalnya:
- Angke: SD + CD. Karena sudah established di kalangan pengusaha, sudah jadi tempat makan sehari-hari. Ditambah lokasinya yang tepat, Asal bisa menjaga kualitas, ga bakal ada matinya.
- MacD: SD jadi CD. Dulu jadi tempat elite karena ngetop, masih baru, tapi sekarang udah jadi tempat makan biasa. That’s good and bad; steady income tapi peningkatan income tidak terlalu memuncak dengan cepat.
- Hardrock Cafe: SD jadi CD. Sekarang jadi tempat makan umum buat masyarakat sekitarnya. Sebagai tempat tujuan, not so much.
Evolusi ini umumnaya baik , tapi bisa juga jelek. Misalnya, evolusi dari Special Destination menjadi Casual Destination bagus apabila memang itu adalah resto yang mengandalkan perputaran customer yang tinggi, sedangkan jelek apabila mengandalkan jenis pelanggan yang spesifik, seperti country club, karena dapat terlihat sebagai petanda menurunnya prestise tempat tersebut. Jadi balik lagi kepada tujuan kita mendirikan resto itu.
Tambahan mengenai konsep dan perubahan jaman:
Resto yang sudah lama exist pasti sudah established (seperti: Angke), tapi ledakan munculnya restoran dalam beberapa tahun ini menyebabkan restoran ‘kehabisan waktu’ untuk mendapatkan konsumen. Di sinilah pentingnya konsep. Konsumen tidak lagi memiliki waktu untuk mencicipi masakan siapa yang paling enak. Saat ini, untuk semua jenis restoran, the rule is: Dia yang memiliki konsep terbaik akan menang, sisanya akan hancur.
Konsep terbaik dalam hal ini bukan berarti termahal atau termurah, teraneh atau ternyentrik, atau bahkan bukan ide yang 100% masih segar di era ini. Konsep terbaik adalah konsep yang secara luas menyajikan sesuatu yang menarik, bisa diterima dengan baik, dan trendy bagi generasi, lokasi, dan target marketnya.
Contoh: Kota Bogor memiliki kesan “sunda” yang kuat. Makanya restoran yang muncul sekarang2 ini yang menyajikan makanan sunda dan namanya berbau kuat Sunda, booming. Antara lain: Bumbu Desa, Sariwangi, The Leuit. Sedangkan yang konsep, makanan, dan namanya ga berbaur dengan lingkungan sekitar, sepi banget. Misalnya: Kintamani (makanan chinese dan campuran). Padahal mereka ada di pajajaran semua.
This era is truly a battle of concept. Jadi jika Anda sudah memiliki sebentuk restoran dalam pikiran Anda, pilihlah lokasi dengan benar. Sedangkan apabila lokasinya yang sudah tersedia, maksimalkanlah profit Anda dengan membangun type restoran yang tepat. Ciptakanlah konsep yang terbaik, dan cocokkanlah segala jenis marketing Anda dengan type restoran yang Anda miliki/akan bangun. Dengan kerja keras, kreativitas, dan doa, Anda pasti berhasil.
Good luck.