Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Auditing SIKLUS PENDAPATAN

oleh: MindoriYasha     Pengarang : HENY
ª
 
AUDITING SIKLUS PENDAPATAN

KELOMPOK TRANSAKSI SIKLUS PENDAPATAN
1. Penjualan kredit
2. Penerimaan kas
3. Penyesuaian penjualan ( potongan penjualan, retur penjualan, cadangan retur penjualan, dan piutang tak tertagih)

AKUN ATAU REKENING YANG TERPENGARUH PADA SIKLUS PENDAPATAN
- Penjualan - Piutang dagang
- Harga Pokok Penjualan - Kas
- Persediaan barang dagangan - Potongan penjualan
- Retur penjualan - Kerugian atau biaya piutang tak tertagih
- Cadangan kerugian piutang

DOKUMEN DAN CATATAN PADA SIKLUS PENDAPATAN
- Order pelanggan - Order penjualan
- Dokumen pengiriman - Faktur
- Invoice - Daftar harga
- Buku pembantu piutang - Jurnal penjualan
- Pernyataan bulana pelanggan

RISIKO BAWAAN PADA SIKLUS PENDAPATAN
Faktor yang menyebabkan tingginya risiko bawaan siklus pendapatan ini, adalah :
1. Volume transaksi yang tinggi
2. Penentuan waktu pengakuan pendapatan berkaitan dengan standar akuntansi yang ambigu, dilakukan estimasi, dan kompleksitas perhitungan.
3. Piutang dagang mungkin salah diklasifikasikan dalam piutang lancar dan piutang tidak lancar karena ada kesulitan dalam memperkiraklan waktu pelunasan.
4. Sifat kas (paling likuid dan sangat diminati).
5. Adanya potensi terjadi manipulasi dalam transaksi penyesuaian penjualan untuk menutupi korupsi.

STRATEGI AUDIT PADA SIKLUS PENDAPATAN
Strategi audit yang sring dipakai adalah pendekatan tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan lebih rendah (Low Assesed Level of Control Risk), dimana auditor lebih banyak mengandalkan pengujian pengendalian. Yang mendfasarinya adalah apabila auditor yakin bahwa struktur pengendalian intern klien sangat baik dan dapat mencegah dan mendeteksi salah saji, maka auditor perlu menguji kelayakan keyakinannya tersebut. Auditor akan menguji apakah struktur pengendalian intern tersebut memang layak diyakini efektivitasnya. Maka auaditor akan melaksanakan pengujian pengendalian.
Untuk asersi hak dan kewajiban, pelaopran dan pengungkapan, auditor menggubakan primarily substantive approach, dimana auditor lebih banyak melakukan pengujian substantif, karena pada umumnya pengujian pengendalian tidak dapat diterapkan untuk asersi-asersi ini.
Faktor lain dalam menentukan strategi audit adalah pertimbangan cost benefit. Auditor perlu membandingkan biaya melakukan pengujian pengendalian intern, dan penghematan yang diperoleh dengan berkurangnya pengujian substantif bila telah melakukan pegujian pengendalian.

PENETAPAN RISIKO PENGENDALIAN
5 tahap penetapan risiko pengendalian :
1. Mengidentifikasi salah saji potensial yang dapat terjadi.
2. Mengidentifikasi pengendalian yang dapat diterapkan untuk mencegah dan mendeteksi salah saji.
3. Menghimpun bukti melalui pengujian pengendalian mengenai apakah rancangan dan operasi pengendalian adalah efektif.
4. Mengevaluasi bukti yang dihimpun.
5. Melakukan penetapan atau penilaian risiko pengendalian.

SALAH SAJI POTENSIAL PADA SIKLUS PENDAPATAN
Salah Saji Potensial Pengendalian Yang perlu Pengujian pengendalian
Yang Mungkin
Penjualan dilakukan atas pelanggan yang tidak terotorisasi Penentuan data pelanggan ada di daftar pelanggan yang disetujui Mengamati pelaksanaan fungsi ini
Penjualan dilakukan tanpa persetujuan kredit Pengecekan limit kredit pelanggan untuk setiap penjualan.
Pengecekan terhadap pelanggan baru. Memeriksa bukti pengecekan limit kredit
Barang dikeluarkan dari gudang tanpa order terotorisasi Adanya order penjualan yang disetujui untuk setiap pengeluaran barang.
Pemisahan wewewnang antara fungsi pemenuhan order dan pengiriman barang. Mengamati karyawan gudang dalam melaksanakan pemenuhan order
Barang dikirim tidak sesuai dengan yang dipesan Pengecekan independen oleh petugas pengirim atas kesesuaian barang dari gudang dengan order penjualan Memeriksa bukti pelaksanaan pengecekan independen
Penagihan dilakukan atas transaksi fikrif atau adanya duplikasi penagihan Mencocokan dokumen pengiriman dengan order pnjualan untuk setiap faktur Mengusut faktur ke dokumen pengiriman dan order penjualan
Faktur tidak dijurnal/diposting ke rekening pelanggan.
Terjadi trensaksi penjualan fiktif. Adanya pengecekan independen kesesuaian jurnal pendapatan dan jumlah diposting ke rekening pelanggan dengan total seluruh faktur Menelaah bukti adanya pengecekan independen

PENGUJIAN SUBSTANTIF PIUTANG DAGANG
Pada kegiatan perusahaan normal, piutang dagang yang dilunasi dalam jangka waktu kurang dari satu tahun termasuk dalam aktiva atau aset lancar. Pemeriksaan aktiva lancar relatif lebih memakan waktu dan biaya daripada pemeriksaan aktiva tetap. Yang disebabkan oleh tingginya frekuensi transaksi yang mempengaruhi aktiva lancar. Dalam rangka untuk merancang pengujian substantif, akuntan harus menentukan tingkat risiko deteksi yang diterima unutk masing-masing asersi terkait signifikan.

PENETAPAN RISIKO DETEKSI
Tinggi rendahnya risiko deteksi tergantung pada besarnya risiko audit yang ditetapkan, risiko bawaan, dan risiko pengendalian. Matriks yang digunakan untuk mencatat dan mengkolerasikan berbagai komponen risiko yang harus dipertimbangkan :

Komponen Risiko Keberadaan dan Keterjadian Kelengkapan Hak dan Kewajiban Penilaian/
Alokasi Penyajian dan pengungkapan
Risiko Audit Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah
Risiko bawaan Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang
Risiko Pengendalian – transaksi penjualan Rendah Rendah Sedang Sedang Sedang
Risiko pengendalian – transaksi penerimaan kas Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah
Risiko pengendalian – penyesuaian penjualan Sedang Rendah Sedang Tinggi Sedang
Penggabungan risiko pengendalian Rendah Sedang Sedang Tinggi Sedang
Risiko deteksi yang diterima Sedang Sedang Tinggi Rendah Sedang

KONFIRMASI PIUTANG
SAS 67, The Confirmation Provess (AU 330) mensayaratkan bahwa auditor harus melakukan prosedur konfirmasi dalam proses pengauditan, kecuali :
1. Piutang dagang berjumlah tidak material untuk laporan keuangan secara keseluruhan.
2. Penggunaan konfirmasi dinilai tidak efektif.
3. Perencanaan auditor berkaitan dengan rirsiko bawaan dan risiko pengendalian rendah dan bukti yang diharapkan dengan prosedur analitis atau pengujian substantif detail cukup untuk mencapai risiko audit yang diterima.
Bentuk konfirmasi :
1. Konfirmasi positif, dimana debitur cukup menyebutkan apakah saldo piutang dagang atas pelanggan tersebut benar atau salah.
2. Konfirmasi negatif, dimana debitur cukup menjawab atau mengembalikan surat konfirmasi apabila saldonya salah.
Prosedur konfirmasi menyediakan bukti untuk memenuhi 3 sersi :
1. Keberadaan : catatan piutang ada dalam neraca.
2. Hak : piutang yang tercatat dalam neraca merupakan hak dari perusahaan dan tidak dijual (didiskontokan).
3. Penilaian : Piutang dagang dilaporkan secara tepat jumalhnya.

Diterbitkan di: 09 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bisakah anda menjelaskan apa tujuan audit siklus pendapatan dan bagaimana koreksi auditnya (sektor publik) ?? trims Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    arti risiko bawaan tinggi dan rendah? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.