Saat banyak perusahaan putar otak agar dapat bertahan di tengah gelombang krisis ekonomi global, Perum Pegadaian justru
menuai berkah. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini mampu meningkatkan omzetnya dari Rp26 triliun pada 2007 menjadi Rp33,5 triliun pada 2008. Tahun ini perusahaan menargetkan omzet yang lebih besar lagi, yaitu Rp48 triliun.Bagaimana kinerja Pegadaian pada 2008?
Menggembirakan. Tahun lalu banyak terjadi perubahan yang mengarah pada kebaikan untuk Pegadaian. Krisis yang terjadi menjadi berkah untuk Pegadaian. Tahun lalu kami bisa menambah gerai sebanyak 800, dari yang tadinya 1.200 menjadi genap 2.000. Dari segi omzet juga naik mencapai Rp33,5 triliun dibanding pada 2007 yang sebesar Rp26 triliun. Net profit kami mencapai Rp628 miliar dan gross profit sekitar Rp901 miliar.Apakah imbas krisis sama sekali tidak dialami Pegadaian?
Pada triwulan IV-2008 dunia perbankan menaikkan suku bunga, dan sumber dana Pegadaian juga dari perbankan. Maka, otomatis cost of fund juga naik. Namun, Pegadaian tidak menaikkan rate untuk nasabah. Hanya efeknya, margin kami yang terganggu. Makanya, kami ubah RKAP tahun lalu, yaitu gross profit dari Rp700 miliar menjadi sekitar Rp980 miliar, walaupun ternyata kami hanya bisa mencapai Rp901 miliar. Itu terjadi karena adanya krisis, tetapi bisnis kami tetap berjalan.Perubahan apa saja yang Anda lakukan sejak memimpin Pegadaian?
Pertama, saya melihat potensi Pegadaian masih besar. Pasar tradisional di Indonesia ini banyak jumlahnya, tetapi penetrasi Pegadaian di pasar tidak banyak, padahal pusat ekonomi ada di pasar. Saat krisis, pasar tradisional bisa bertahan, maka kami mulai buka gerai Pegadaian di pasar-pasar tradisional. Kemudian, di beberapa mal yang memang dirasa sesuai, kami juga buka gerai Pegadaian. Gerai menjadi media utama kami melayani nasabah, makanya jumlah gerai terus kami tambah. Wilayahnya juga diperluas. Di Jakarta, kami bagi jadi dua wilayah karena sudah terlalu luas. Di Sumatera juga kami tambah. Dahulu bisnis kami di Sumatera tidak maju karena kami tidak fokus. Di beberapa wilayah, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kami merelokasi gerai supaya span of control-nya oke. Lalu, yang penting adalah mengubah persepsi masyarakat agar tidak malu lagi ke Pegadaian serta bagaimana menumbuhkan kebanggaan para karyawan Pegadaian.