Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Analisis Perbedaan UMR di DIY dan JATENG

Analisis Perbedaan UMR di DIY dan JATENG

oleh: blankstate    
ª
 

A. Pendahuluan

Upah Minimum Regional (UMR) merupakan standar minimum upah yang diperoleh pegawai dalam suatu perusahaan. UMR diatur oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tentang Upah Minimum. UMR diatur agar masyarakat mampu mencukupi kebutuhan pokoknya serta terciptaya pemerataan pendapatan. UMR ditetapkan melalui proses yang panjang. Penetapan UMR dimulai dengan Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang melakukan survei. Dari survei yang dilakukan kemudian diperoleh data Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang nantinya menjadi dasar penetapan UMR. Kemudian DPD mengusulkan UMR kepada gubernur untuk disahkan. Akan tetapi, UMR di tiap-tiap daerah mempunyai nominal yang berbeda. Misalnya UMR tahun 2012 di DIY sebesar Rp 892.660,00 dan di JATENG sebesar Rp 991.500,00. Oleh karena itu, pada kesempatan ini akan dibahas mengapa UMR di DIY dan JATENG mempunyai nominal yang berbeda.

B. Pembahasan

Menutur peraturan Menteri Tenaga Kerja nomor 01/men/1999 pasal 6, penetapan upah minimum harus mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain:

(a) Kebutuhan Hidup Layak (KHL),

(b) Indeks Harga Konsumen (IHK),

(c) kemampuan,perkembangan dan kelangsungan perusahaan,

(d) upah pada umumnya yang berlaku di daerah tertentu dan antar daerah,

(e) kondisi pasar kerja,

(f) tingkat perkembangan perekonomian dan pendapatan per kapita.

Banyak faktor yang berpengaruh terhdap perbedaan UMR di tiap-tiap daerah. Oleh arena itu, penulis akan menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap perbedaan UMR di DIY dan JATENG.

a. Kebutuhan Hidup Layak (KHL) merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pleh seorang pekerja lajang baik kebutuhan fisik maupun non fisik sehingga dapat hidup dengan layak. Upah minimum di DIY lebih sedikit dari pada di JATENG, hal ini membuktikan bahwa seorang pekerja lajang di JATENG mempunyai kebutuhan yang lebih banyak dari pada pekerja lajang di DIY.

b. Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan petunjuk mengenai naik turunnya harga suatu barang. Tingginya UMR di JATENG dari pada di DIY membuktikan bahwa harga di JATENG mengalami kenaikan harga lebih tinggi dari pada di DIY. Hal ini menunjukkan bahwa harga barang di DIY lebih murah dari pada di JATENG.

c. Daerah di JATENG mempunyai sumber daya atau faktor produksi yang lebih banyak dari pada di DIY. Oleh karena itu, banyak perusahaan mampu untuk mengembangkan kelangsungan hidupnya. Banyaknya perusahaan di JATENG akan menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini nantinya akan meningkatkan PDRB di JATENG. Meningkatnya PDRB akan membuat harga semakin kompetitif yang kemudian berdampak pada naiknya profit perusahaan sehingga upah pun naik. Hal inilah yang menyebabkan tingginya UMR dari pada di DIY.

C. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi perbedaan UMR di DIY dan JATENG meliputi:

(1) Perbedaan Kehidupan Hidup Layak (KHL), dimana di JATENG lebih tinggi dari pada di DIY,

(2) Indeks Harga Konsumen (IHK), dimana harga barang di DIY lebih murah dari pada di JATENG,

(3) perbedaan Sumber Daya Alam (SDA), dimana di JATENG mempunyai SDA yang lebih banyak, sehingga dapat memacu perekonimannya yang dapat meningkatkan

Diterbitkan di: 16 Oktober, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.