Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Internalisasi Nilai-nilai Keislaman Dalam Bidang Ekonomi

Internalisasi Nilai-nilai Keislaman Dalam Bidang Ekonomi

oleh: muiszudin     Pengarang : Muiszudin
ª
 
Ketika zaman mendekati akhir, manusia semakin tidak peduli dengan persoalan keimanannya (Q.S. 21:1). Oleh karena itu, ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an pun menjadi sesuatu hal yang harus dieksploitasi kembali untuk mengingatkan manusia agar tidak melupakan dan melaksanakannya secara lebih baik. Pendapat yang mengatakan bahwa budaya adalah sesuatu yang komprehensif, dapat mengambil tempat pada pengimplementasian nilai-nilai keislaman kepada umat manusia. Artinya, dalam mengimplementasikan persoalan-persoalan manusia, harus tidak memisahkan antara persoalan-persoalan dunia maupun persoalan-persoalan akhirat.
Persoalan politik, budaya, ekonomi, dan sosial saling terkait dan mempengaruhi dalam kehidupan manusia yang merupakan bagian dari sebuah ibadah yang menjadi bekal untuk kehidupan akhirat. Ini berarti bahwa, jika membicarakan salah satu persoalan di atas, persoalan lain akan mengambil peran untuk menyempurnakan persoalan pokok. Namun, ketika kita telah banyak berkecimpung dalam konsep-konsep non-Islam dalam memecahkan persoalan-persoalan keduniawian, maka haruslah secara sadar kita kembali membuka kitab-kitab yang mengatur persoalan-persolan keduniawian tersebut dalam pendekatan Islam tanpa ada keraguan (Q.S.2:2, 10:37, 11:110, 32:2, 42:7).
Dalam konteks inilah persoalan internalisasi nilai-nilai keislaman yang bersumber dari Al-Qur’an harus dilakukan secara intens. Sistem pengetahuan dan kepercayaan yang menjadi bagian dari kebudayaan harus dioptimalkan dalam melakukan internalisasi nilai-nilai keislaman tersebut. Masyarakat Islam harus diberi pemahaman tentang nilai-nilai keislaman bukan sesuatu hal yang baru, dan semua bersamaan kelahirannya ketika al-Qur’an diturunkan.
Pemahaman tentang ekonomi Islam harus dimulai dari sumber hukumnya. Dalam ekonomi Islam, sumber hukum dalam pembentukan asumsi-asumsi adalah Al-Qur’an dan hadist. Jika pada ekonomi –ekonomi orthodok dipengaruhi oleh latar belakang penulisnya, demikian juga halnya dengan ekonomi Islam yang dimulai dari aktivitas ekonomi yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW ketika menyebarkan agama Islam di Makkah dan Madinah (Ira M.Lapidus, 2000), dan dilanjutkan dengan para sahabat-sahabatnya. Kemunculan ekonomi Islam bukan untuk melawan sebuah kondisi yang terbentuk oleh teori ekonomi lain, tetapi sebagai bagian integral dari pengamalan Islam itu sendiri, untuk membangun moral umatnya. Kemampuan Nabi Muhammad dalam menerjemahkan asumsi-asumsi yang dicanangkan al-Qur’an bukan sesuatu yang sulit, karena ia sendiri sebelum menerima wahyu tersebut adalah pedangang yang menjalankan bisnis dari modal yang diberikan oleh Siti Chadidjah, yang kelak menjadi istrinya, dan berhasil dengan baik dalam bisnis tersebut.
Kemajuan di bidang ekonomi Islam pada awal perkembangannya memicu kemajuan-kemajuan di bidang lain, terutama teknologi. Semua kemajuan-kemajuan tersebut diarahkan untuk memperkuat bidang ekonomi. Misalnya, penemuan teknologi kompas, dibutuhkan oleh saudagar-saudagar Islam dalam menentukan arah kiblat ketika mereka melakukan perjalanan bisnis di wilayah lain. Teropong dibutuhkan untuk menentukan awal Ramadhan, kertas ditemukan untuk digunakan sebagai pencatatan-pencatatan transaksi yang dilakukan dalam bisnis.
Internalisasi nilai-nilai keislaman dalam bidang ekonomi tidak akan mengubah hukum-hukum yang berlaku di bidang ekonomi itu sendiri. Namun, beberapa fungsi sosio-ekonomi yang esensial diharapkan muncul, yaitu: (a) memberantas kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan; (b) menjaga stabilitas nilai uang secara riil; (c) menjamin keadilan sosial dan ekonomi melalui pemerataan pendapatan; (d) memelihara hukum dan ketertiban; (e) harmonisasi hubungan dan kerjasama internasional dan regional; (f) seperti halnya dalam kapitalisme, Islam juga mengakui kebebasan perusahaan dengan kepemilikan individu, sistem pasar, dan motif keuntungan (Mosad Zineldin, 1998).
Dalam kaitannya dengan perbankan syariah, banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang larangan riba yang mengisyaratkan perlunya transaksi yang menghindarinya. Di antaranya Q.S. (2:275): Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila…… Dengan dasar yang cukup kuat, internalisasi nilai-nilai keislaman dalam bidang ekonomi akan memperkuat internalisasi dalam bidang keuangan syariah. Dalam kerangka ini patut disimak konsep dasar dari Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh, bahwa kredit adalah hak fundamental manusia, di mana setiap orang harus diberikan peluang secara adil untuk mengubah kondisi ekonominya. Kredit memiliki kapasitas untuk menciptakan usaha sendiri, yang dengan demikian meningkatkan pendapatan, dan mereka dapat menggunakan tambahan pendapatan ini untuk memuaskan hak dasar manusia lain untuk makanan, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan (Gibbons and Kassim, 1990).
Jika diperhatikan, daya dukung nasabah yang menginginkan murni syariah telah jenuh karena telah digarap oleh dua bank syariah yang besar. Peluang yang cukup besar berada pada posisi floating market dan murni konvensional, tentu saja sebagian besar dari mereka adalah umat muslim dan berada pada kantong-kantor organisasi-organisasi Islam, baik formal maupun non-formal. Intensitas internalisasi nilai-nilai keislaman dalam bidang perbankan merupakan strategi yang dapat dilakukan. Sasaran utamanya, tentu saja pada operasionalisasi perbankan itu sendiri. Konsep yang meniru perbankan konvensional, tentu saja, tidak dapat disalahkan karena beberapa hal, seperti sumberdaya bank syariah yang kebanyakan adalah orang-orang dari perbankan konvensional, di samping itu, konsep tersebut telah terbukti berhasil secara baik dan sangat menguntungkan ketika diterapkan di perbankan konvensional. Hasil dari penjiplakan tersebut, tidak akan menampakkan ciri dari perbankan syariah dan proses internalisasi, tentu saja, akan berjalan lamban.
Sistem keuangan Islam memiliki dimensi menyehatkan dan menstabilkan keuangan karena telah menjadi perintah syariah. Transaksi yang diharapkan dari kegiatan ini adalah bersifat produktif dan tidak membenarkan keterlibatan dalam hal-hal yang ilegal dan tidak etis. Prinsip ini menghindarkan orang dari potensi risiko tekanan keuangan yang dipicu oleh leverage yang berlebihan dan spekulasi kegiatan keuangan. Hal inilah yang menuntut internalisasi prinsip-prinsip syariah dalam transaksi keuangan Islam, dalam bentuk semangat dan substansi. Inilah yang melambangkan tujuan syariah dalam mempromosikan ekonomi dan keadilan sosial.

Diterbitkan di: 28 Januari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.