Jika
anda berpikir bahwa jika ingin memulai
bisnis anda harus memiliki
modal besar, anda harus membaca buku ini. Buku ini memuat 11 rahasia
memulai bisnis tanpa uang. Saya akan membocorkan beberapa di
antaranya:
-
Modalnya:
Apa yang Anda Miliki
Pada poin ini, penulis menceritakan pengalaman pribadinya saat masih
sekolah. Saat itu, neneknya menyuruhnya berjualan kedondong di
sekolah. Setelah sehari penuh berjualan saat istirahat, ternyata
hanya dua orang temannya yang membelinya. Setelah bel tanda pulang,
ia pun putar otak bagaimana agar kedondong itu habis. Kemudian, ia
pun memelas pada penjual rujak agar kedondongnya bisa ditukar rujak.
Peristiwa tersebut mengajarinya untuk selalu mampu membaca peluang.
-
Bermodal
KTP
Masfuk, seorang Sarjana Hukum UNAIR memulai usahanya dengan bermodal
KTP. Ia berangkat ke Jepara ke tempat Pak Rohim, pemilik industri
pembuat monel. Ia meminta Pak Rohim memberi barang monel senilai Rp
350.000,00 dengan jaminan KTP. Ia kemudian menyewa sebuah tempat di
supermarket dengan pembayaran di belakang. Lambat laun usahanya
berkembang dan kini mencapai omzet Rp 5,5 miliar.
-
Bermodal
Uang Orang Lain
Anda memiliki ide usaha yang bagus, tetapi tidak punya modal, anda
masih dapat memulai usaha dengan kerjasama modal. Jika anda memiliki
kawan atau relasi dekat yang percaya kepada anda, anda dapat
meyakinkan mereka untuk mendapatkan dukungan modal. Semakin anda
libatkan mereka, semakin besar kepercayaan mereka, yang artinya
semakin besar pula modal yang akan ditanamkan pada usaha anda.
-
Kawan
Anda Sebagai Jaminan
Pak Maryono mengawali bisnis sebagai penjual buku-buku asing dalam
bidang kedokteran. Modalnya adalah kawannya di Fakultas Kedokteran
agar ia dapat mengambil buku. Dengan jaminan kawannya tersebut, ia
memperoleh buku-buku asing yang dapat dijualnya pada beberapa
instansi dan perguruan tinggi. Hasilnya cukup lumayan, dan dapat
digunakannya sebagai biaya kuliah.
-
Bermodal
Hadiah
I Ketut Kasih dari Bali memulai bisnis dengan hadiah celana dari
temannya asal Melbourne. Ia menyetrika celana tersebut, kemudian
menjiplaknya ke dalam koran bekas. Ketut kemudian meminta tolong
sekolahnya untuk dibuatkan sebuah celana berselancar seperti potongan
koran hasil jiplakannya tadi. Teman-temannya tertarik dan meminta
untuk dibuatkan celana serupa. Sejak tahun 1989, ia memegang lisensi
semua produk pakaian dan aksesori merk Quicksilver, yang asalnya dari
Melbourne, Australia. Di samping itu, ia memiliki perusahaan garmen
merk King Kong. Pada usia 17 tahun, ia telah mampu mengekspor 100
potong celana King Kong ke Jepang.
Ingin tahu lebih jelas? Silahkan membaca buku kecil namun bermanfaat
ini.