Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Peningkatan Kinerja Pegawai

Peningkatan Kinerja Pegawai

oleh: akhank     Pengarang: H. Akang Permana; Sp; MM
ª
 
DalamUndang-undang ini pemberian kewenangan Otonomi kepada Daerah Kabupaten/Kotadidasarkan kepada azas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas, nyatadan bertanggung jawab. Dalam kewenangan otonomi yang luas ini tercakup keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang meliputi kewenangan bidang pemerintahan kecuali kewenangan di bidang polilik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter data fiskal, serta kewenangan bidanglainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Disamping itu keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi.
Pemberiankewenangan pemerintahan yang luas kepada daerah membawa konsekuensi langsung berkurangnya kewenangan Pemerintah Pusat terhadap daerah dan penambahan tanggung jawab kepada daerah. Terjadinya penambahan wewenang membawa konsekuensi penambahan tugas kepada daerah.
Untuk melaksanakan semua tugas itu kemudian dilakukan restrukturisasi kelembagaan.
Sejalan dengan restrukturisasi yang dilakukan, dibutuhkan peningkatan kinerja Pegawai agar dapat melaksanakan tugas yang ada sebaik mungkin. Untuk itu perlu diperhatikan sikap dasar pegawai terhadap diri-sendiri, kompetensi, pekerjaan saat ini serta gambaran mereka mengenai peluang yang bisa diraih dalam struktur organisasi yang baru. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa perubahan struktur organisasi yang baru dapat mengakibatkan stress dan kecemasan karena menghadapi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Pada saat inilah faktor disiplin kerja dan motivasi kerja yang tinggi sangat berperan.
Faktor kedisiplinan memegang peranan yang amat penting dalam pelaksanaan kerja pegawai. Seorang pegawai yang mempunyai tingkat kedisiplinan yang tinggi akan tetap bekerja dengan baik walaupun tanpa diawasi oleh atasan. Seorang pegawai yang disiplin tidak akan mencuri waktu kerja untuk melakukan hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Demikian juga pegawai yang mempunyai kedisiplinan akan mentaati peraturan yang ada dalam lingkungan kerja dengan kesadaran yang tinggi tanpa ada rasa paksaan. Pada akhirnya pegawai yang mempunyai kedisiplinan kerja yang tinggi akan mempunyai kinerja yang baik karena waktu kerja dimanfaatkannya sebaik mungkin untuk melaksanakan pekerjaansesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Faktormotivasi juga tidak kalah penting dalam meningkatkan kinerja pegawai. Motivasi menjadi pendorong seseorang melaksanakan suatu kegiatan guna mendapatkan hasil yang terbaik. Oleh karena itulah tidak heran jika pegawai yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi biasanya mempunyai kinerja yang tinggi pula.
Untuk itu motivasi kerja pegawai perlu dibangkitkan agar pegawai dapat menghasilkan kinerja yang terbaik. Masalah kualitas SDM pemda merupakan masalah pentingdalam pelaksanaan Otda. Oleh karena itu, peningkatan SDM pemda merupakan hal mendesak harus dilakukan, agar pelaksanaan Otda dapat berjalan sesuai diharapkan. Salah satu kesimpulan dari BKS AKSI (Badan Kerjasama Antar-Kota Seluruh Indonesia) ketika organisasi masih eksis, umumnya kualitas staf pemda rendah.
Akibat rendahnya kualitas staf, menimbulkan masalah ketidakmampuan pemda mengajak investor ke daerah. Umumnya prilaku staf pemda kepada pengusaha lebih banyak mempersulit, ketimbang melayani. Dari hasil pelatihan BKS AKSI terhadap staf-staf pemda menunjukan masih rendahnya kualitas.
Banyak pemda tidak mampu menggaet investor karena sudah terlalu lama berlaku prinsip ”Kalau bisa diperlama, untuk apa dipercepat” atau ”Kalau bisa dipersulit, untuk apa dipermudah”. Itulah sebabnya perlu diberikan pelatihan ”peningkatan kualitas pelayanan aparatur pemda”.
Keluhan terhadap attitude dan pelayanan pemda terhadap masyarakat merupakan hal yang sudah dimaklumi. ”Gerakan Disiplin Nasional” akhirnya diplesetkan menjadi ”Gerakan Diselipin Nasional” agar urusan segera beres dengan staf pemda.
Dapat kita katakan pada akhirnya daerah yang akan banyak diminati para investor pasca-Otda adalah: Pertama, pemda yang memberikan berbagai kemudahan fasilitas dan perijinan. Kedua, pemda yang memiliki staf yang melayani. Inilah yang menjadi indikator kemajuan suatu pemda.
Tantangan masa depan terhadap pemda, yakni bagaimana membangun attitude positif aparat pemda dimulai dari kualita pimpina yang baik sehingga memiliki kualitaspelayanan publik; dan bagaimana meningkatkan kemampuan nalar aparatur.
Untuk meningkatkan kualitas pimpinan dan percepatan pelayanan pemda, tidak Ada masalah aparatur pemda melakukan studi banding keluar negeri asal jelas objektifnya. Seperti yang dilakukan Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) Oktober lalu dengan mengirim para sekda untuk mengikuti pendidikan di Singapura. Selanjutnya, nanti disusul para wali kota, bupati, kepala dinas, dan lain-lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat betapa pentingnya peranan faktor disiplin kerja dan motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja pegawai yang mana semua hal itu tergantung dari seorang pimpinan dapat memimpin dan menjadi manajer bagi karyawannya dengan baik.
Dari penelitian awal yang dilakukan pada pegawai Pemda di lingkungan Sub bagian Kerumahtanggaan dan Persandian, Bagian Umum pada Sekretariat Daerah KabupatenBandung dapat diketahui bahwa tingkat kedisiplinan pegawai masih rendah.
Hal ini terlihat dari fenomena masih adanya pegawai yang tidak bekerja pada saat jam kerja atau memanfaatkan waktu kerja untuk melakukan hal-hal lain di luar pekerjaannya. Di samping itu, dilihat dari motivasi kerja pegawai, tampak masih rendahnya motivasi kerja pegawai. Hal ini terlihat dari rendahnya semangat pegawai untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Hal ini berakibat pada rendahnya kinerja yang dimiliki pegawai yang terlihat dari sering terjadinya keterlambatan dalam penyelesaian pekerjaan.
Adanya fenomena awal dari disiplin kerja dan motivasi kerja pegawai tersebut, mendorong penulis untuk meneliti seberapa besar Hubungan Kualitas Pelayanan Pimpinan dengan Kinerja Pegawai Sub bagian Kerumahtanggaan dan Persandian, Bagian Umum pada Sekretariat Daerah Kabupaten Bandung.
Diterbitkan di: 01 Agustus, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Bagaimana sebaiknya agar kinerja dan disiplin meningkat? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.