Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi level dari
struktur modal dalam kondisi yang berbeda berdasarkan
struktur asset dan 4 atribut dari
pecking order theory.
Pecking Order Theory
· Manajer mengetahui informasi lebih banyak tentang prospek perusahaan dibandingkan investor luar sehingga investor luar bisa menangkap sinyal aktivitas manajer untuk menduga prospek perusahaan.
· Urutan sumber pendanaan dimulai dari internal fund, debt, dan terakhir equity.
Signaling theory : sinyal yang diberikan manajer kepada investor luar.
· Perusahaan yang berprospek bagus cenderung memilih hutang daripada menjual saham. Oleh karena itu, penggunaan utang dianggap sebagai sinyal positif oleh investor luar.
· Perusahaan yang berprospek buruk cenderung memilih menjual/menerbitkan saham daripada menggunakan hutang. Oleh karena itu, dipandang sebagai sinyal negatif bagi investor luar.
Rumusan masalah :
Apakah variabel
struktur aktiva dan variabel pencking order hypothesis mampu membedakan perusahaan dengan struktur modal tinggi dan perusahaan dengan struktur modal rendah pada kondisi ekonomi normal?
Apakah hasil estimasi model prediksi pada kondisi ekonomi normal bermanfaat untuk memprediksikan struktur modal pada kondisi ekonomi krisis?
Hipotesis :
H1 : Variabel stuktur aktiva dan proksi pecking order theory, return on asset (RoA), Growth of Sales (G.S), Growth of Total Asset (G.TA), Retained Earning to Total Asset ( RE.TA) berguna untuk memprekdisikan perusahaan berstruktur modal rendah dan perusahaan berstruktur modal tinggi pada kondisi normal.
H2 : Hasil estimasi model prediksi pada kondisi ekonomi normal bermanfaat untuk memprediksikan struktur modal hingga 3 periode berikutnya pada kondisi ekonomi krisis.
Variabel terikat : struktur modal
Varabel bebas : RoA, G.S, G.TA, RE.TA, struktur aktiva
Populasi : perusahaan go public manufaktur di Indonesia
Sample : sebelas perusahaan go public manufaktur di Indonesia sejak 1992
Teknik analisis : analisis diskriminan
Terdapat perbedaan antara hasil penelitian yang dulu dan sekarang adalah karena pertimbangan-pertimbangan berikut :
Semakin tinggi profitabilitas, semakin tinggi laba ditahan, semakin rendah struktur modal tapi akan muncul hutang tinggi karena perusahaan melakukan ekspansi yang membutuhkan biaya besar.
Makin besar aktiva lancar, makin besar hutang dan struktur modal makin tinggi. Tapi *hasil tersebut kontradiktif karena ukuran dulu dan sekarang bersifat resiprokal.
Kesimpulan :
Penelitian ini menghasilkan hasil yang berbeda dengan penelitian terdahulu. Model yang memasukkan RE.TA terbukti dapat memberikan kontribusi yang signifikan dan konsisten. Hasil tersebut konsisten pada kondisi ekonomi normal maupun krisis.
Beberapa variabel tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk memprediksi struktur modal.