Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Pengujian SUBSTANTIF TERHADAP PIUTANG

Pengujian SUBSTANTIF TERHADAP PIUTANG

oleh: annas091     Pengarang : Messier
ª
 
PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP PIUTANG

1. PENDAHULUAN
Piutang merupakan klaim kepada pihak lain atas uang, barang atau jasa yang dapat diterima dalam jangka waktu satu tahun, atau dalam satu siklus kegiatan perusahaan. Piutang umumnya disajikan di dalam neraca dalam dua kelompok :
1. Piutang dagang, dan
2. Piutang nondagang
Piutang dagang ini umumnya merupakan jumlah yang material di dalam neraca bila dibandingkan dengan piutang nondagang. Piutang nondagang timbul dari transaksi selain penjualan barang dan jasa kepada pihak luar, seperti piutang kepada karyawan, piutang penjualan saham, piutang klaim asuransi, piutang pengembalian pajak, piutang dividen dan bunga. Di dalam bab ini, akan diuraikan perancangan pengujian substantif terhadap piutang, kemudian akan dilanjutkan dengan prinsip akuntansi yang lazim dalam penyajian unsur piutang di dalam neraca dan tujuan pemeriksaan terhadap piutang . Bab ini akan diakhiri dengan pembahasan mengenai perancangan pengujian substantif terhadap piutang.

2. PRINSIP AKUNTANSI YANG LAZIM DALAM PENYAJIAN PIUTANG DI NERACA
Sebelum membahas pengujian substantif terhadap piutang, perlu diketahui terlebih dahulu prinsip akuntansi yang lazim dalam penyajian piutang di neraca berikut ini :
1. Piutang dagang harus disajikan di dalam neraca sebesar jumlah yang diperkirakan dapat ditagih dari debitur pada tanggal neraca. Piutang dagang disajikan di dalam neraca dalam jumlah bruto dikurangi dengan taksiran kerugian tidak tertagihnya piutang.
2. Jika perusahaan tidak membentuk cadangan kerugian piutang dagang, harus dicantumkan penjelasannya di dalam neraca bahwa saldo piutang dagang tersebut adalah jumlah bersih (neto).
3. Jika piutang dagang bersaldo material pada tanggal neraca, harus disajikan rinciannya di dalam neraca.
4. Piutang dagang yang bersaldo kredit (terdapat di dalam kartu piutang pada tanggal neraca harus disajikan dalam kelompok utang lancar).
5. Jika jumlahnya material, piutang nondagang harus disajikan terpisah dari piutang dagang.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi, 1992, Pemeriksaan Akuntan, Penerbit STIE YKPN, Yogyakarta
Boynton, dkk. 2003, Modern Auditing Edisi Ke-7, Penerbit Erlangga, Jakarta
Diterbitkan di: 02 Maret, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bisa tampilkan tabel Laporan keuangannya beserta penjelasannya ? saya ada kesulitan dalam menyusun laporan keuangan dalam skripsiq, mgkn bisa di bantu.thank's Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Mohon penjelasan piutang bersaldo kredit... Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa terkadang piutang bersaldo kredit?? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.