Minggu depannya, sewaktu mengajar untuk kelas berikutnya di rumah Ben, dia menggembar gemborkan hasil latihan intensifnya
atas lagu 'Bokonglubolong'. Dia ambil gitarnya dan memperlihatkannya pada gue. Hasilnya? Bom Bali meledak. Masih ancur.
Kejutan datang dari mulut Ben, 'Dika, thanks to you I will play this song in my church next Sunday.'
'Ha?'
Apa gue gak salah denger? Ben bakalan maen gitar dan nyanyi lagu ini di gerejanya. Hari Minggu depan. Oh, ironis sekali. Orang berbondong-bondong datang ke gereja tersebut untuk menyembah Tuhan... tapi malah menyaksikan NYANYIAN PENGUNDANG IBLIS!
'Ben, how many people there will be?'
'About hundred,' kata Ben, santai.
Oke, bagus. Gue punya tanggung jawab moral untuk menyelamatkan nyawa 100 orang tak berdosa. Gue harus memaksa Ben untuk tidak jadi nyanyi di gerejanya. Tidak, tidak seperti ini!
Cuplikan cerita di atas adalah satu dari beberapa kisah nyata yang dialami Raditya Dika. Kisah hidupnya yang sebenarnya biasa saja menjadi menarik dengan bumbu imajinasi Si Penulis. Silahkan nikmati kisah serunya yang lain di buku ini.