Selamatkan Indonesia dari dating violence Pacaran adalah wajib. Itu adalah hukum bagi pergaulan anak
jaman sekarang. Bahkan acara jumpa pacar seringkali mengalahkan pelajaran sekolah. Para pencari ilmu mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan sang belahan jiwa pada saat jam pelajaran sekolah, membolos. Bukan itu saja, waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk mengendurkan urat syaraf justru digunakan untuk jumpa darat kembali, tanpa ada aturan dan etika. Bahkan menjurus pada perbuatan maksiat.
Itu bearti banyak anak sekolah yang telah melakukan aktifitas seksual dengan bebas dan terbuka. Baik itu di kantin, taman sekilah atau tempat-tempat khusus lainnya. Misalnya di UKS (Unit Kesehatan Siswa), kantor OSIS (Organisasi Siswa Intra sekolah), Pramuka atau warung internet di sekolah atau yang terdekat. Tempat-tempat ini sering disalahgunakan untuk melakukan perbuatan tidak senonoh yang belum saatnya mereka lakukan.
Bahkan warung internet justru sering mereka gunakan untuk membuka situs-situs pornografi, yang lebih merangsang nafsu pasangan remaja berlainan jenis ini. Mereka melakukan hal-hal yang melanggar aturan-aturan sosial masyarakat kita tanpa ada kontrol sama sekali.
Dalam suatu penelitian menyebutkan, jumlah remaja Indonesia yang mengalami kencanduan untuk menonton maupun mengoleksi materi pornografi dari internet saat ini telah masuk 10 besar di dunia. Sebuah fakta yang sangat mencengangkan bagi kita semua. Kemudian data dari Miyabi terdapat kesimpulan yang menyatakan dari tahun 2004 sampai 2008 pengguna internet di Indonesia telah menjadi penikmat film seks dengan adegan kekerasan di dalamnya. Yang lebih mengerikan lagi, Indonesia menduduki tingkat pertama di dunia sebagai konsumen film porno kekerasan produksi Jepang.
Dan yang lebih membuat kita miris lagi, empat kota tertinggi penikmat pornografi justru ada di kota-kota yang sering disebut sebagai kota pendidikan dan pelajar, seperti Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan Bandung. Lebih dari itu, Aktifitas menonton film porno telah merubah pemikiran generasi muda kita dalam kehidupan sehari-hari dan pacaran. Mereka hanya berpikir tentang seks, seks, dan seks.
Mereka selalu membujuk pasangannya untuk melakukan aktifitas seks seperti yang telah sering mereka lihat di media-media pornografi. Mereka melakukan apa saja agar dapat melakukan hubungan yang diluar batas kewajaran itu. Bahkan bila perlu mereka juga melakukan violence atau pemaksaan (kekerasan).
Dating violence dalam kenyataanya memang telah menjadi suatu yang tidak asing lagi bagi pergaulan remaja di Indonesia. Dating violence adalah suatu bentuk kekerasan dalam hubungan cinta untuk menguasai pasangannya agar mau menuruti segala apa yang dia mau.
Buku ini mengulas semua hal tentang Dating violence. Mulai dari definisi, ciri-cirinya serta bagaimana mengetahui seseorang telah menjadi korban dari Dating violence. Dan yang lebih menarik, buku ini ditulis berdasarkan fakta lengkap dengan angka atau pengakuan dari korban Dating violence.
Kita akan mendapat informasi dan berbagai hal mengenai cara melindungi remaja kita dari aksi Dating violence. Melindungi remaja bearti juga melindungi Indonesia dari kebobrokan moral.