Mungkin sekilas
buku ini tampak berat. Apalagi kebanyakan komentar
orang pas liat saya baca buku ini adalah, "Renaisans itu apa sih, Al?" atau "Iiih, berat amat sih bacaannya!"..Padahal enggak.Buku
ini, ringan. Beneran. Pak Zaim hanya ngangkat
hal2 kecil dari
pengalaman dia sehari-hari, apa yang dia alami, apa yang dia lihat di
televisi, apa yang diobrolin temen2nya, hal2 yang
kita semua juga
alamin lah..Cuma bedanya. Gak kayak kita (oke, saya) yang
mungkin seringnya suka ga peduli dan akhirnya lupa begitu aja, Pak Zaim
bisa nangkep esensi-esensi, makna-makna, hikmah-hikmah dari hal2 kecil
tadi. Dan hebatnya, dia kaitkan dengan perspektif kebangsaan.
Kamu ngerti kan? :-) Iya, cara pandang kita sebagai manusia Indonesia. Pada
akhirnya, hal2 itu Pak Zaim susun dalam bentuk bab2 yang
menggugah--kalo menurut saya, sih:-Potret Kemiskinan Kita-Potret Lara Kita-Potret Kebhinnekaan kita-Wajah Umat-Wajah Bangsa-Wajah pemimpin-Menata Diri-Menata Negara-Menata Masa DepanBuku
favorit saya selalu adalah buku yang mencerahkan dan mencerdaskan. Dan
saya kira, saya gak berlebihan kalo nyebut buku ini sebagai buku yang
komplit: kamu bisa dapet dua-duanya.Kamu bisa ngerti masalah
yang sebenernya membelit Indonesia, kamu bisa beberapa kali
nginget-nginget kejayaan dan keambrukan yang pernah Indonesia alami di
masa lalu, tapi kamu tetap diarahkan untuk mikir solusi dan orientasi
masa depan sama Pak Zaim.Ini a-must-read! Apalagi sebentar lagi, kan giliran kamu yang mimpin dan ngurus masyarakat.Oke, kita.
Resensi lain tentang Menggagas Renaisans Indonesia