Halaman Utama Shvoong > Buku > Cerpen & Novelet > Nenek Tapak Bumi

.

Nenek Tapak Bumi

Pengarang : herwij
Review by : herwij
Kunjungan : 48  kata: 600   Diterbitkan di: April 01, 2008
Saat pertama kali melihat wanita itu, aku merasakan rasa penasaran yang besar terhadapnya. Bagaimana tidak? Dilihat dari penampilannya, usia wanita itu pasti sudah Di atas 50 tahun lebih. Namun, kakinya sungguh cekatan sekali. Melompat dari balok kayu yang satu ke balok kayu lainnya. Bukan hanya itu. Tubuh rentanya tidak terbungkus celana, melainkan kain selendang yang dililitkan sekenanya di pinggangnya. Benar-benar Nenek yang energik, pikirku.
Bukan hanya itu yang membuatku penasaran. Selama lima minggu lebih mengamatinya, ada satu hal yang sangat menonjol dalam perilakunya. Itu adalah kenyataan bahwa ia hampir tidak pernah menginjak tanah! Setiap hari dihabiskannya hanya dengan duduk di atas tumpukkan balok kayu, mengamati hiruk pikuk jalanan yang terletak tepat di depan rumahnya. Sesekali ia akan merokok dan mengobrol dengan orang yang lewat dan semuanya ia lakukan dengan cara yang sama: tanpa menginjak tanah. 
Didorong rasa penasaran yang besar, aku pun memberanikan diri bertanya padanya perihal kebiasaannya itu. Dengan tenang ia menjelaskan, 
"Tanah itu adalah tempat kembalinya manusia. Mereka adalah tempat tidur terakhir kita. Setiap jiwa yang hidup pasti akan kembali ke pelukannya, tertutupi butiran-butirannya. Oleh karena itu, sebelum ajalku datang menjemput, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke tanah"
Aku terperangah. Fantastis sekali pemikiran Nenek ini, begitulah benakku berkata. Namun dalam hati aku membenarkan kata-katanya, walau tidak mengerti sepenuhnya arti dari kata-kata tersebut. 
Setelah pembicaraan kami tersebut, aku jarang memperhatikan Nenek itu lagi. Tiga minggu kemudian, rasa penasaranku padanya kembali muncul. Dengan segera aku datang ke rumahnya. Aneh, ia tidak lagi ada di atas balok kayu. Tempat itu kini kosong, hanya berisi tumpukan kayu yang membisu. Saat aku bertanya pada tetangganya, mereka pun bercerita.
"Seminggu yang lalu Nenek turun ke bawah, ia menginjakkan kakinya yang kurus ke tanah. Tiba-tiba ia terpeleset dan kepalanya membentur balok kayu. Ia pun meninggal seketika"
Aku benar-benar terkejut. Nenek telah meninggal. Mungkin memang sudah tiba saatnya baginya, untuk menginjakkan kakinya ke tanah dan kembali ke pelukan tanah tempat tidurnya.  


Resensi lain tentang Nenek Tapak Bumi
Nenek Tapak Bumi  oleh  herwij    2008 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------