Normal
0
MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}
Mat
Jangkar Seperti hari-hari biasa, Mamat
Syafrudin alias Mat Jangkar mulai melakukan kegiatan sehari harinya sebagai
preman pasar.
Dia disebut Mat Jangkar karena
di tangan kirinya ada sebuah tato
yang lumayan besar yang bergambar jangkar perahu. Dia adalah preman yang sangat ditakuti banyak
orang karena terkenal sadis dan mempunyai ilmu kebal. Badannya yang tinggi
besar dan berotot dan wajahnya yang sangar membuat siapa saja orang yang
melihatnya akan langsung menjauh. Dia sangat senang mabuk-mabukan sehingga
sering juga disebut ”Mamat Subok”.
Dia memulai kegiatannya
dengan memalak para
pedagang yang berjualan di Pasar
Rawabening Jakarta. Dengan wajahnya yang sangar dan bengis, dia mulai
mendatangi para pedagang satu persatu untuk meminta
uang jatahnya. Semua
pedagang menuruti kemauannya,sampai ketika ada satu pedagang baru yang enggan
memberikan uang jatah itu.
”Mana uang jatah gue?” Kata Mat Jangkar dengan mata yang melotot.
”Uang jatah apa bang? Baru aja saya dagang disini! Masa udah dimintain uang jatah?
Emangnya abang siapa?” Kata pedagang baru itu dengan sedikit menantang. ”Oh! Lo
mau tau siapa gue? Gue Mat Jangkar yang megang pasar ini, semua orang disini
tau siapa Mat Jangkar.” Katanya dengan suara yang keras bagaikan guntur di
siang bolong. Si pedagang itu pun langsung pucat dan diam seribu bahasa. Lalu
Mat Jangkarpun menggertak ”Kalo elo
masih pengen ketemu bini sama anaklo lagi, kasih uang jatah gue hari ini!”. Si
pedagang itupun lalu dengan berat hati memberinya lima lembar uang seribu
rupiah kepada si preman pasar itu.
Sesudah
semua pedagang didatangi, Mat Jangkar lalu membagi sedikit uang hasil
memalaknya kepada anak buahnya yang berjumlah 13 orang. Tetapi ketika dia
sedang membagi uang itu, salah seorang anak buahnya berlari menghampirinya dan
berteriak ”Bos si Samsul di keroyok sama orang-orang!” katanya dengan
terengah-engah. Samsul adalah salah seorang anak buah kesayangan Mat Jangkar.
Dengan nada yang marah Mat Jangkar berkata ”Apa! Dimana dia dikeroyok?” ”Itu
bos di deket Kali Mati!” kata anak buahnya itu. Disebut Kali Mati karena di
dekat kali itu banyak preman yang di bunuh lalu di lempar di kali tersebut.
Lalu Mat Jangkar dan semua anak buahnya yang ada disana segera berlari untuk
menolong Samsul.
Setelah
sampai Mat Jangkar tanpa berbasa-basi lagi langsung memukul orang-orang yang
mengeroyok Samsul itu dengan tangan kosong. Lalu dia bertanya kepada salah
seorang pengeroyok itu. ”Siapa yang nyuruh elo mukulin anak buah gue?”. Orang
itupun menjawab. ”Ampun bang saya jangan dipukul lagi! Kami disuruh sama bang
Petruk!” katanya dengan memelas.”Kurang ajar tuh si Petruk beraninya sama anak
buah gue, gue bales dia nanti!” katanya dengan geram. Si Petruk adalah preman lain yang berkuasa di
daerah itu selain si Mat Jangkar. Si Petruk selalu berusaha untuk merebut
kembali daerah kekuasaannya yang dulu diambil oleh Mat Jangkar.
&n
Resensi lain tentang Mat Jangkar