Catatan Dari Sang Penakluk Dunia…
Oleh: Arif Khunaifi Ar.
Tidaklah sama tindakan orang yang pernah merasakan lezatnya
iman dan yang belum pernah merasakannya, tidaklah sama penulis yang sekadar menulis dengan penulis yang tulisannya adalah hasil dari pengalaman dirinya. (Ibnu Mushlih, 2007)
Percikan kata mutiara di atas tepatlah bagi saya untuk menggambarkan bagaimana cara Gus Luthfi menorehkan setiap kata yang beliau susun dari A sampai Z dalam tulisannya. Dimana, beliau tidak sekedar menulis sebagaimana kebanyakan penulis di negeri ini. Selain beliau menulis dalam keadaan berwudlu alias dalam keadaan suci, agar tulisannya membawa perubahan perilaku ke arah lebih baik para pembacanya, lebih dari itu buku ini adalah hasil pengalaman keseharian beliau dalam menghadapi gegap gempita kehidupan.
Saya kira, sangatlah sulit bagi seorang penulis yang walaupun berkecimpung dan bergejibaku di dunia akademisi untuk menjadikan pengalaman keseharian menjadi sebuah konsep tanpa mujahadah seperti yang beliau lakukan. Tentunya konsep yang tidak bertentangan dan berseberangan dengan neraca syariat, justeru menurut hemat saya buku ini adalah salah satu cara beliau untuk membumikan nilai-nilai keislaman yang terkadang melangit dan tidak mudah untuk dijangkau oleh nalar logis.
Salah satu yang manjadi analisa saya untuk buku ini adalah cara berpikir beliau yang seakan sudah tidak ada kekhawatiran dan kecemasan mengarungi kehidupan dunia, sehingga dalam tulisan itu terjadi jalin-jemalin antara kekuatan ruhiyah dan iktiariyah secara sistematis, dan otomatis hal ini akan menstimulus atau merangsang otak pembaca untuk mengamalkan apa saja yang beliau tulis ini. Hanya dengan mengamalkan apa yang beliau suguhkan inilah pembaca juga akan merasakan sendiri konsep sukses menghadapi kehidupan yang beliau maksudkan.
Konsep dalam 10 Pilar Ajaran Berani Hidup ini di desain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk semua kalangan kaum muslimin apapun profesinya dan dimanapun mereka berada. Hal ini disebabkan dalam buku juga dimunculkan beberapa konseling umat Islam dari berbagai macam profesi dan latar belakang yang berbeda. Sehingga inilah salah satu nilai plus dalam buku ini, yang belum biasa ditemukan oleh kaum muslimin dalam buku-buku keislaman lainnya.
Dus, sebagai generasi penerus tongkat estafet perjuangan dakwah tentunya kami berdoa segala apa yang beliau tulis adalah ikhlas, murni lillahi ta’ala. Karena sebenarnya itulah sekuat-kuat landasan pacu perjuangan untuk kami, agar dengan landasan pijakan yang kuat itulah tongkat estafet itu tetap aman dan tidak terlepas dari tangan beliau kepada kami. Dan itulah salah satu bekal untuk berani menghadapi kehidupan yang beliau pesankan dalam buku ini.
Walhasil, kami sebagai para generasi penakluk dunia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti dan mengamalkan apa yang beliau tulis. Dan azzam kami adalah bisa mengisi kekurangan-kekurangan beliau sebagai manusia biasa, serta berkarya lebih banyak dan lebih baik lagi, untuk bersama-sama menebar hidayah Allah swt dimuka bumi. Damailah dunia bersama Islam. Wallahu A’lam.
Zawiyah Tambak Bening,
7 Ramadhan 1428 H/ 19 September 2007