Sekilas, dengan membaca judul
buku ini, timbul kesan bahwa kebahagiaan adalah sebuah berkah kehidupan yang
tidak
mungkin dapat diraih oleh para politisi. Benarkah demikian?
Seperti diulas dalam buku ini, bahwa
sesungguhnya para politisi pun dapat menikmati kebahagiaan. Mereka tetap bisa
berbahagia, tetapi bahagia yang berbeda.
Kebahagiaan para politisi adalah ketika
lawan polotiknya menghadapi masalah. Dalam kancah politik, segala sesuatu yang
buruk pada lawan politik akan menjadi suatu kebahagiaan bagi sang rival. Banyak
bukti yang bisa dijadikan contoh. Satu diantaranya, skandal video syur anggota
dewan dengan salah seorang artis dangdut yang berbuntut dipecatnya anggota
dewan bernasib apes itu. Skandal memalukan ini merupakan kebahagiaan bagi
rival-rival politik, karena fakta tersebut menjadi pintu pembuka peluang besar
untuk menggantikan kursi empuk yang kosong.
Masih banyak contoh lainnya dalam
buku ini, yang pada prinsipnya, tandas sang penulis, rumus kebahagiaan dalam
politik adalah “sedih kalau melihat rival politik senang, dan bahagia tatkala
menyaksikan lawan politik susah”. Betulkah ini sebuah kebahagiaan? “Bukan, yang
semacam itu bukan kebahagiaan, melainkan kesenangan”, jelas penulis. Celakanya,
kesenangan seringkali menyamar sebagai kebahagiaan.
Hal substansial lainnya yang
disorot dalam buku ini adalah tentang kiblat politik, bahwa satu-satunya kiblat
para politisi adalah “ kepentingan”. Ada
semacam adagium yang berlaku, bahwa tidak ada lawan sejati dalam politik,
sebagaimana halnya tidak ada musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan. Kepentingan
telah menjadi “berhala” para politisi. Tidak ada politisi yang mementingkan
orang lain. Kalau ternyata ada politisi yang tulus memperjuangkan kepentingan
rakyat, mereka sesungguhnya bukan politisi, melainkan negarawan. Merujuk
pernyataan Thomas Jefferson, politisi memikirkan pemilihan yang akan datang,
sementara negarawan memikirkan generasi yang akan datang.
Dalam buku ini, penulis tidak lupa menampilkan
beberapa sosok anggota dewan yang santun dan mementingkan rakyat. Tetapi untuk
yang satu ini penulis tetap konsisten bahwa anggota dewan semacam itu bukan
politisi, tetapi negarawan. Buku ini menyimpan banyak kekayaan hikmah, baik
berupa kearifan-kearifan lokal, global, bahkan juga kearifan-kearifan
spiritual.