Penulis buku best seller
La Tahzan, Dr. Aidh al-Qorni, menggambarkan buku ini dengan sebuah kalimat singkat: "buku
paling bagus dan paling menarik yang pernah saya baca", tulisnya dalam salah satu karya beliau berjudul
Hakadza Haddatsana az-Zaman mengomentari buku
Shaidul Khathir ini.
Shaidul Khathir benar-benar sebagai sebuah buku pencerahan. Seribu satu keresahan atau kegundahan hati sang penulis terhadap berbagai manifes patologi sosial dicermati dengan ketajaman mata hati, kemudian dituangkan dalam buku ini sebagai tulisan-tulisan yang sangat inspiratif. Perspektif persoalan demi persoalan disorot dari sudut pandang keilmuan beliau yang sangat luas dan dalam. Pilihan-pilihan solusi terhadap sejumlah persoalan hidup yang digambarkan penulis sangat mendasar. Seluruh kajiannya terfokus pada upaya-upaya substansial membangun kecerdasan seluruh ranah potensi kemanusiaan untuk menggapai kemenangan hidup.
Di buku inilah misalnya saya menemukan cahaya pemahaman yang sangat menenteramkan hati saya mengenai cara paling arif menghindari jerat-jerat syahwat, khususnya yang sering dibangkitkan oleh (atau dari) gambaran-gambaran pornografis. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa situs-situs web yang mencoba mengusung tema-tema pornografi cenderung lebih banyak diminati orang karena "menjanjikan kenikmatan".
Bersyukur saya membaca buku
Shaidul Khathir dan mengambil salah satu saripati nasehat di dalamnya bahwa: Jika engkau bertekad meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik. Ingat, hanya Alah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk Maha Kuasa untuk mengganti kenikmatan dengan sesuatu yang sebaliknya.
Hal menarik lainnya, buku ini menekankan esensi kecerdasan yang paling fundamental, yaitu ketika orientasi berpikir dan bertindak seseorang hanya semata mata ditujukan untuk menggapai sesuatu yang abadi, yang tetap langgeng sampai kapanpun, tidak dibatasi oleh kefanaan duniawi meski yang terakhir ini terkadang (atau bahkan mungkin sering) memberikan daya tarik yang memikat yang pada akhirnya tidak jarang menghantarkan kepada kenistaan dan kehancuran.
Maka selamat tinggal "nikmat-nikmat pembawa sengsara", dan selamat datang "nikmat-nikmat pembawa kebahagiaan dan keselamatan".
Shaidul Khathir sungguh sebuah obor penerang perjalanan hidup anak manusia menuju puncak-puncak
kemenangan sejati.