Kita mencari kebahagiaan melalui benda-benda, melalui hubungan,
melalui
pikiran, gagasan-gagasan. Jadi benda-benda, hubungan dan
gagasan-gagasan itu
menjadi mahapenting, bukan kebahagiaan. Bila kita mencari
kebahagiaan
melalui sesuatu, maka sesuatu itu menjadi lebih bernilai
daripada
kebahagiaan itu sendiri. Bila dirumuskan seperti ini, masalahnya
terdengar
sederhana, dan memang sederhana. Kita mencari kebahagiaan di dalam
harta
benda, di dalam keluarga, di dalam ketenaran; maka harta benda,
keluarga,
gagasan menjadi mahapenting, oleh karena dengan begitu kebahagiaan
dicari
melalui suatu cara, lalu cara itu menghancurkan tujuan. Dapatkah
kebahagiaan
ditemukan melalui cara apa pun, melalui apa pun yang dibuat oleh
tangan atau
oleh pikiran? Benda, hubungan dan gagasan jelas sekali tidak
kekal, kita
terus-menerus dibuat tidak bahagia olehnya. ... Benda-benda tidak
kekal,
mereka aus dan lenyap; hubungan merupakan pergesekan terus-menerus
dan
kematian menunggu; gagasan dan kepercayaan tidak mempunyai kemantapan
atau
keabadian. Kita mencari kebahagiaan di dalam hal-hal itu, namun
tidak
menyadari ketidakkekalannya. Maka kesedihan menjadi teman
kita
terus-menerus, dan mengatasinya menjadi masalah kita.
Untuk menemukan
makna sejati dari kebahagiaan, kita harus menjelajahi
sungai
pengetahuan-
diri. Pengetahuan- diri bukan tujuannya sendiri.
Adakah sumber
dari sebuah sungai? Setiap tetes air dari awal sampai akhir
membentuk sungai
itu. Membayangkan bahwa kita akan menemukan kebahagiaan pada
sumbernya
adalah keliru. Ia akan ditemukan ketika Anda berada di dalam
sungai
pengetahuan- diri.
Resensi lain tentang Dapatkah KEBAHAGIAAN DIPEROLEH MELALUI SESUATU?