ANTARA CACING, BURUNG & MANUSIA
Summary rating: 1 stars
1 Tinjauan
Kunjungan
:
39
kata:
600
Diterbitkan di: Februari 23, 2008
Bila
kita sedang
mengalami
kesulitan
hidup
karena
himpitan
kebutuhan
materi,
maka
cobalah
kita
ingat
pada
burung dan cacing. Kita
lihat burung
tiap
pagi
keluar
dari
sarangnya
untuk
mencari
makan.
Tidak
terbayang
sebelumnya
kemana
dan
dimana
ia harus
mencari
makanan
yang
diperlukan.
Karena
itu
kadangkala
sore
hari
ia
pulang
dengan
perut
kenyang
dan
bisa
membawa
makanan
buat
keluarganya,
tapi
kadang
makanan
itu
cuma
cukup
buat
keluarganya,
sementara
ia
harus
"puasa".
Bahkan
seringkali
ia
pulang
tanpa
membawa
apa-apa
buat
keluarganya
sehingga
ia
dan
keluarganya
harus
"berpuasa".
Meskipun
burung
lebih
sering
mengalami
kekurangan
makanan
karena
tidak
punya
"kantor"
yang
tetap,
apalagi
setelah
lahannya
banyak
yang diserobot
manusia,
namun
yang
jelas
kita
tidak
pernah
melihat
ada
burung
yang
berusaha
untuk
bunuh
diri. Kita
tidak
pernah
melihat
ada
burung
yang
tiba-tiba
menukik
membenturkan
kepalanya
ke
batu
cadas.
Kita
tidak
pernah
melihat
ada
burung
yang
tiba-tiba
menenggelamkan
diri
ke
sungai.
Kita
tidak
pernah
melihat
ada
burung
yang
memilih
meminum
racun
untuk
mengakhiri
penderitaannya.
Kita
lihat
burung
tetap
optimis
akan
makanan
yang
dijanjikan
Allah. Kita
lihat,
walaupun
kelaparan,
tiap
pagi
ia
tetap
berkicau
dengan
merdunya.
Tampaknya
burung
menyadari
benar
bahwa
demikianlah
hidup,
suatu
waktu
berada
diatas
dan
dilain
waktu
terhempas
ke
bawah.
Suatu
waktu
kelebihan
dan
di
lain
waktu
kekurangan.
Suatu
waktu
kekenyangan
dan
dilain
waktu
kelaparan. Sekarang
marilah
kita
lihat
hewan
yang
lebih
lemah
dari
burung,
yaitu
cacing.
Kalau
kita
perhatikan,
binatang
ini
seolah-olah
tidak
mempunyai
sarana
yang
layak
untuk
survive
atau
bertahan
hidup.
Ia
tidak
mempunyai
kaki,
tangan,
tanduk
atau
bahkan
mungkin
ia
juga
tidak
mempunyai
mata
dan
telinga.
Tetapi
ia
adalah
makhluk
hidup
juga
dan,
sama
dengan
makhluk
hidup
lainnya,
ia
mempunyai
perut
yang
apabila
tidak
diisi
maka
ia
akan
mati. Tapi
kita
lihat
,
dengan
segala
keterbatasannya,
cacing tidak
pernah
putus
asa
dan
frustasi
untuk
mencari
makan.
Tidak
pernah
kita
menyaksikan
cacing
yang
membentur-benturkan
epalanya
ke
batu. Sekarang
kita
lihat
manusia.
Kalau
kita
bandingkan
dengan
burung
atau
cacing,
maka
sarana
yang
dimiliki
manusia untuk
mencari
nafkah
jauh
lebih
canggih. Tetapi
kenapa
manusia
yang
dibekali
banyak
kelebihan
ini
seringkali
kalah
dari
burung
atau
cacing?
Mengapa
manusia
banyak
yang
putus
asa
lalu
bunuh
diri
menghadapi
kesulitan
yang
dihadapi? Padahal
rasa-rasanya
belum
pernah
kita
lihat
cacing
yang
berusaha
bunuh
diri
karena
putus
asa.
Rupa-rupanya
kita
perlu
banyak
belajar
banyak
dari
burung
dan
cacing.
Resensi lain tentang ANTARA CACING, BURUNG & MANUSIA