Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Roman>Yang Terindah dari KHADIJAH

Yang Terindah dari KHADIJAH

oleh: wahyuendang     Pengarang : Yoli Hemdi
ª
 
PERSPEKTIF GENDER ALA SITI KHADIJAH

   Membaca buku : Yang Terindah dari KHADIJAH, saduran Yoli Hemdi, seolah membaca atau melihat kelebatan kesetaraan dan keadilan Gender yang ternyata tidak asing dalam dunia Islam. Kehidupan Siti Khadijah mendampingi Muhammad menjadi contohnya. Dari bagaimana cara ia mendapatkan cinta Muhammad hingga kepergiannya yang meninggalkan cinta sejati bagi Muhammad, walaupun setelah kepergiannya Muhammad kemudian menikahi beberapa wanita, tetap sosok Khadijah adalah sosok yang tak tergantikan dalam hidupnya. Buku ini dapat menjadi rujukan kaum perempuan, bagaimana sebaiknya mendampingi suami.
Terbagi dalam 11 bagian epilog : bagaimana cinta diperjuangkan hingga cinta menggoreskan kenangan abadi. 
Pada bagian pertama digambarkan perjuangan Khadijah memperoleh cinta Muhammad. Disini digambarkan bukanlah hal yang tabu bagi wanita menyatakan hasrat cintanya kepada seorang lelaki asalkan kepada laki-laki baik-baik dan dengan cara yang baik pula. Jadi disini jelas digambarkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan cinta.
Bagian kedua : menggambarkan keikhlasan Khadijah dalam mendampingi Muhammad yang lebih banyak perjuangan dibandingkan kehidupan Khadijah sebelumnya yang relatif sudah mapan. Seorang perempuan pada saat telah menentukan pilihan pendamping hidup, seyogyanya memang siap menghadapi berbagai kemungkinan kehidupan.
Penggambaran bahwa laki-laki adalah juga manusia biasa, bahkan untuk seorang Muhammad pun, digambarkan dibagian ketiga ini. Dalam hal ini bagaimana Khadijah berperan sebagai tambatan hati suami, dikala suami menghadapi kerapuhan dalam hidupnya. Bukan hanya wanita yang butuh perlindungan jiwa, laki-lakipun butuh berlindung, disinilah seorang istri harus peka mengetahui kapan suaminya butuh lindungan kasih sayang dan pertolongan dari istrinya (bagian keempat).
Faktor usia bukan kendala bagi dua mahluk untuk membentuk mahligai rumah tangga. Hal ini digambarkan bagaimana kehidupan keluarga Muhammad dan Khadijah yang harmonis dng dihiasi kehadiran putri2 cantik mereka, walaupun perbedaan usia antara keduanya cukup jauh (sekitar 15 tahun istri lebih tua dari suami).
bagian keenam: merupakan contoh nyata bahwa Islam tidak mengharamkan istri/perempuan mempunyai karir cemerlang, Islam tidak pernah melarang seorang istri ikut membantu suaminya mencari nafkah...(hal 99). Emansipasi juga tidak harus menunjukkan kemampuan perempuan melakukan pekerjaan2 kasar seperti lelaki, tapi pekerjaan2 yang memuliakan perempuan itu sendiri. Demikian juga dengan predikat janda, juga bukan status yang hina sepanjang wanita itu sendiri dapat memuliakan dirinnya sendiri.
Bagian delapan sampai dengan sepuluh menggambarkan pribadi Khadijah yang cerdas secara emosi dan rohani, tulus, dan ikhla, serta setia.
Bagian terakhir adalah kepergian Khadijah yang menimbulkan luka mendalam bagi Muhammad sehingga dijuluki Amul Huzni : kenyataan yang dikenang selamanya.
Bagaimanapun juga buku ini mengurai secara lengkap bagaimana seorang perempuan dapat menjadi pendamping suami dengan kesetaraan tanpa menimbulkan konflik dan melukai harga diri laki-laki. Ternyata kesetaraan dan keadilan gender sudah tidak asing dalam Islam, bahkan dicontohkan sendiri oleh keluarga nabi.

Diterbitkan di: 09 Desember, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.