Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Buku>Poetry>Akku Ingin Jadi Peluru

Akku Ingin Jadi Peluru

oleh: 29bidap9     Pengarang : Wiji Thukul
ª
 
Hanya satu kata dan tegas untuk menggambarkan Wiji Thukul, Berani! Dan sebagai konsekuensi dari keberaniannya, dia menjadi korban praktik penghilangan orang pada masa orde baru. Pada Mei 1998, ketika Soeharto lengser dari kursi kepresidenannya, Thukul pun menghilang. Dia diculik oleh alat-alat kekuasaan karena aktifitas politiknya telah menyinggung batas nafsu kekuasaan Order baru.

Buku ini berisi puisi-puisinya yang singkat, padat, tegas, keras dan langsung pada intinya, sehingga tak sulit bagi orang awam untuk membaca dan memahami maksud yang disampaikannya. Kebanyakan puisinya bertemakan tentang perlawanan atas rezim militer orde baru, protes atas kekuasaan politik, penggambaran jurang perbedaan kelas sosial, mengajak masyarakat kelas bawah untuk berani menyuarakan ketidakadilan yang semena-mena, yang terlalu menguntungkan kaum elit. Berikut kutipan salah satu puisi yang berjudul “Ucapkan Kata-katamu”

Jika kau tak sanggup lagi bertanya
Kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan
Jika kau tahan kata-katamu
Mulutmu tak bisa mengucap apa maumu
Terampas
Kau akan diperlakukan seperti batu
Dibuang dipungut
Atau dicabut seperti rumput
Atau menganga
Diisi apa saja menerima
Tak bisa ambil bagian
Jika kau tak berani lagi bertanya
Kita akan jadi korban keputusan-keputusan
Jangan kau penjarakan ucapanmu
Jika kau menghamba pada ketakutan
Kita memperpanjang barisan perbudakan

Aroma protes yang berkobar-kobar kembali Wiji Thukul dengungkan di dalam puisinya yang berjudul “Aku Menuntut Perubahan”. Ia berlakon atas nama rakyat kecil, menggambarkan kondisi kehidupannya. Rakyat kecil tak mau tahu apa itu politik dan urusan kenegaraan, yang penting hidup mereka aman, tentram, sejahtera, makan kenyang dan hutang lunas. Berikut ini kutipannya.

Seratus lobang kakus
Lebih berarti bagiku
Ketimbang mulut besarmu
Tak penting
Siapa yang menang nanti
Sudah bosen kami
Dengan model urip kayak gini
Ngising bingung, hujan bocor
Kami tidak butuh mantra
Jampi-jampi
Atau janji
Atau sekarung beras
Dari godang makanan kaum majikan
Tak bisa menghapus kemlaratan
Belas kasihan dan derma baju bekas
Tak bisa menolong kami
Kami tak percaya lagi pada itu
Partai politik
Omongan kerja mereka
Tak bisa bikin perut kenyang
Mengawang jauh dari kami
Punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal
Kami ingin tidur pulas
Utrang lunas
Betul-betul merdeka
Tidak tertekan
Kami sudah bosen
Dengan model urip kayak gini
Tegasnya =
Aku menuntuk perubahan!

Wiji Thukul telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang merasa tertindas, seorang seniman yang menciptakan puisi dengan warna kerakyatan yang mampu menyampaikan permasalahan orang kecil. Buku ini menggambarkan semangat yang berkobar-kobar tentang kenyataan dan permasalahan pada masa orde baru. Jika ingin tahu apa saja kenyataan-kenyatan itu, bacalah buku ini, niscaya anda akan menyetujui gagasan-gagasan dan cerita yang dilontarkan Wiji Thukul di setiap puisinya.
Tak salah, judul bukunya begitu menyatu dengan isinya.
10 Oktober 2010
Diterbitkan di: 10 Oktober, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.