IKHLAS DI UJUNG LIDAH
Kau beri ku harapan
Tapi kau juga beri ku kecewa
Kau tunjukkan keindahan
Tapi
kau juga yang menujukkan rasa duka
Ku coba tuk bisa pasrah
Tapi itu semua hanya sebatas lidah
Ku coba tuk bisa menerima
Tapi hati telah terlanjur terluka
Andaikan dulu kau tidak berdusta
Mungkin rasa ini tak kan pernah ada
Ku juga tak perlu menderita
Menahan sakit dan perihnya luka cinta
Kini hanya hela nafas panjang yang tersisa
Setiap ku mencoba menahan rasa sakit yang tak nyata
Melepaskanmu untuk selamanya
Karya: Jiemson
Memang cerita cita tidak akan pernah ada habisnya untuk diceritakan mulai dari suka, marah, kecewa, hingga perasaan yang tak bisa di ungkapkan lewat kata-kata. Puisi di atas dapat kita serap intinya yaitu seseorang yang telah ditinggalkan kekasihnya yang meskipun dia berkata bahwa dia ikhlas untuk melepaskannya tetapi pada kenyataannya hatinya masih menyimpan perasaan padanya. Padahal sang kekasihlah yang memulai memberikan rasa padanya seperti yang tertulis pada bait pertama puisi tersebut. Pada bait ketiga terdapat kata dusta yang di tujukan pada sang kekasih ntah kedustaan apa yang dilakukan, tapi kedustaan inilah yang mengawali sang "aku" mulai ada perasaan. Hingga ia harus melepaskan kekasihnya walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia masih cinta.