MANGIR
Judul : Mangir
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta,
2004.
Tebal : 114 halaman.
Menulis dengan latar belakang
sejarah, Pramoedya kali ini memakai bentuk drama. Setting cerita ini adalah Mataram, Yogyakarta sekarang, di sekitar abad enambelas. Ini adalah cerita rakyat Mataram yang masih hidup sampai sekarang, yang mengisahkan penaklukan wilayah Mangir oleh Senopati. Versi Pram agak berbeda dengan versi rakyat. Dalam opini Pram Mangir adalah
sebuah republik desa dan penguasanya bukanlah raja tapi tetua. Menurut Pram tetua adalah pemimpin yang pro rakyat sedangkan raja adalah beban bagi rakyat. Jadi cerita ini dipakai oleh Pram untuk mengekspresikan ide politiknya yang anti feodalisme.
Mangir adalah sebuah wilayah kecil di sebelah barat kota Yogyakarta sekarang. Dikisahkan pasukan Mangir sulit dikalahkan oleh Mataram. Panembahan Senopati, raja Mataram, lantas merancang sebuah strategi. Anaknya sendiri yang bernama Pembayun diperintahkan menjadi anggota sebuah tim intelejen di bawah pimpinan Ki Juru Mertani, seorang penglima kepercayaan Senopati. Pembayun disuruh menjadi pengamen lalu pergi ke Mangir. Di sana dia berhasil memikat Wanabaya tetua Mangir sehingga menjadi istrinya. Pemimpin Mangir yang lain sebenarnya kurang setuju dengan keputusan Wanabaya menikahi Pembayun tapi karena Wanabaya sudah serius mereka mengalah. Meskipun demikian kecurigaan mereka masih ada.
Suatu hari Pembayun terpojok oleh kecurigaan para pemimpin Mangir sehingga terpaksa mengaku sebagai anak Senopati. Meskipun kaget Wanabaya mau diajak pulang ke istana Mataram. Di istana Senopati sudah menyiapkan pasukan untuk membantainya. Walaupun melawan dengan gigih Mangir tewas di keroyok oleh tentara Mataram sehingga wilayahnya berhasil dikuasai Senopati. Dalam pengeroyokan itu Pemanahan, ayah Senopati yang sudah sepuh juga ikut tewas.
*