Catch 22 adalah sebuah novel yang sangat luar biasa dan tersohor dimana kata-kata pun sukar untuk menggambarkan kehebatannya.
Novel ini jauh dari perkiraan kita saat melihatnya secara sepintas, dimana akhirnya akan
menjadi jelas bahwa semuanya justru tentang anti-perang, bukan tentang peperangan. Catch 22 bukanlah cerita orang-orang Amerika yang berperang melawan orang-orang Jerman. Novel ini bercerita tentang perlawanan terhadap militer Amerika, birokrasinya, dan orang-orang yang dikuasai oleh kekuatannya. Walau ceritanya digambarkan pada era peperangan, novel ini pun menyinggung aspek-aspek lain dari kehidupan setelah peperangan di tahun 50-an, semisal tentang materialisme, perang dingin, dan komunisme serta semua ketakutan-ketakutan hampa yang diakibatkannya. Novel ini pun menggambarkan kegilaan serta ketidaklogisan dalam memperlakukan setiap orang sama. Juga digambarkan bagaimana organisasi-organisasi birokratik telah meracuni kepribadian kita.
Novel ini dilukiskan pada periode Perang Dunia II di sebuah pulau bernama Pianosa, dimana terdapat basis pertahanan udara Amerika. Karakter utama novel in bernama Yossarian, salah seorang kru pasukan pembom. Dia selalunya memandang dirinya sebagai seorang patriot, tapi berubah setelah terjadinya rentetan kejadian besar, yang salah satunya ialah kematian sahabatnya. Ia pun menjadi seorang yang sangat membenci Kolonel Catchcart yang memaksa orang-orangnya terbang untuk sebuah misi. Tujuan satu-satunya Yossarian setelah itu ialah hanya selamat dan dapat melewati peperangan ini hidup-hidup, bukan lagi mencapai tujuan-tujuan dan kemenangan bagi negaranya. Kerap kali Yossarian berpura-pura menjadi terganggu jiwa dan badannya, dengan harapan dapat ditransfer ke rumah sakit. Beberapa kali ia meracuni dirinya atau merubah informasi sehingga para pejabat militer yakin telah salah menjatuhkan bom di tempat yang
tidak seharusnya. Cara ia menjalani waktu memang tidak elegan bagi beberapa orang, tapi sebagian lain dapat melihat begitu tragisnya ia menjalani waktu-waktu, hingga setiap saat menjadi sangat rentan bagi nyawanya untuk dibunuh oleh rekannya yang tahu dan menjunjung tinggi nilai kemiliterannya. Sementara itu kolonel yang bertugas tak pernah memiliki niat untuk memenangkan perang atau tertarik dalam memikirkan strateginya. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk terbang hanya karena ia mengharapkan promosi jabatan belaka.
Judul buku ini mengarah kepada nama sebuah kebijakan yang mengatur bahwa siapapun yang dinilai tidak berkemampuan lagi secara mental dalam menjalankan misi peperangan, maka ia akan dibebastugaskan dari penerbangan untuk misi apapun. Namun apabila Yossarian secara eksplisit mengatakan bahwa ia telah menjadi gila kepada dokternya, maka justru ia dinilai waras. Sebuah situasi yang sungguh dilematis. Akhirnya ia tidak dapat keluar dari situasi ini dan tetap harus terbang untuk Kolonel Catchcart. Yossarian digambarkan sebagai orang yang tidak berdaya di depan birokrasi yang tidak memandang bulu dan merendahkan harga diri.
Aspek penting lainnya dari buku ini ialah jalan cerita tentang lelucon buruk Perang Dingin, dimana diperlihatkan ketakutan dan kegelisahan para pejabat yang saling berperang satu sama lainnya. Heller pun menjadi sangat kritis terhadap Joseph McCarthy, seorang senator yang menuduh para pegawai pemerintahannya telah terlibat dan menyokong secara gigih gerakan komunisme. Sedikit sekali bukti-bukti yang dapat ditunjukkan oleh McCarthy terhadap bawahannya, tapi ketakutan telah tersebar karena pemutusan hubungan kerja, dan bahkan pemenjaraan tanpa sebab. Kejadian ini semakin menjadi-jadi sehingga diharuskannya pengakuan dalam bentuk deklarasi kesetiaan dan penghukuman seseorang bernama Clevinger.
Terdapat pemilihan yang apik dalam karakter novel ini, dimana mayoritas karakter yang diambil hampir berperilaku gila dalam tataran tertentu, karena gilanya peperangan yang berdampak pada gilanya keseharian setiap orang yang dipilih dalam cerita ini.
Heller sendiri mencoba menunjukkan bagaimana kebencian ini telah merubah manusia-manusia yang ada menjadi sekumpulan manusia yang tak berperikemanusiaan. Contohnya, Aarfy, sesosok pria yang sempat melemparkan seorang wanita dari jendela dan tidak menunjukkan rasa belas kasih atau penyesalan. Karekter lain, Milo Minderbinder, menjadi seorang yang sangat rakus terhadap hasil rampasan perang yang ia curi dari kawannya sendiri dan menjualnya di pasar gelap. Bahkan ia pun terlibat jauh dalam perencanaan pengeboman markasnya sendiri karena orang Jerman telah membayarnya.
Benar-benar sebuah dunia kegilaan; anda melihat Kolonel Catchcart yang terus menerus mengirim orang-orangnya ke dalam misi berbahaya hanya untuk meningkatkan reputasinya. Yossarian hidup dalam lingkaran kegilaan yang memaksa kewarasan satu-satunya yang ia tahu hanyalah tetap hidup.
Pembaca perlu melihat lebih dalam ketidakwarasan yang diangkat dan menemukan kebenaran seutuhnya yang ingin ditampilkan. Novel ini semakin jelas di mata pembaca sesaat lebih jauh membacanya, dan mendapatkan pentingnya informasi yang diperlukan hari ini seperti diperlukannya saat ditulisnya cerita ini.
Diterbitkan pada 2 Agustus 2005
Bibliography: Catch 22 oleh Joesph Heller, 2005.