• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Novel>Chiisaki mono e (Kepada Yang Kecil)

.

Chiisaki mono e (Kepada Yang Kecil)

oleh : katanka    

Pengarang : arishima takeo
    Novel ini bercerita tentang seorang lelaki muda yang mempunyai tiga anak dan harus membesarkan mereka
sendirian karena ditinggal mati istrinya. Tokoh utama karakter ini adalah "Aku".
Aku adalah lelaki muda yang pada awal perkawinannya tidak bisa menunjukkan dan merasakan cinta kepada istrinya, hal ini disebabkan istrinya adalah pilihan dari orang tuanya. Aku seringkali menunjukkan muka tidak senang kepada istrinya, karena menurutnya istrinya adalah seorang istri yang terlalu penurut dan tidak mampu berkomunikasi dengan baik dengannya. Mereka tinggal di Hokkaido, kota dingin yang terletak di pulau paling utara di Jepang.
     Walaupun sering dikecewakan oleh suaminya, sang istri selalu baik dan berusaha untuk menyenangkan hati suaminya, tetapi penyesalan Aku atas perkawinannya tidak pernah pudar. Pada saat anak terakhirnya berumur dua tahun, istrinya menderita TBC dan harus dirawat di rumah sakit, hal ini menyebabkan Aku harus merawat anak-anaknya sendirian. Pada saat inilah Aku akhirnya sadar akan beratnya tugas seorang istri dalam usaha mendidik dan membesarkan anak, sedikit demi sedikit rasa hormat dan sayang dari Aku tumbuh kepada istrinya.
     Akhirnya sang istri dapat keluar dari rumah sakit pada musim dingin dan seringkali turun salju di Hokkaido, karena alasan itulah akhirnya Aku memutuskan untuk pindah ke Tokyo yang dipikirnya lebih hangat dan juga karena di kota ini juga banyak terdapat banyak famili karena Aku juga berasal dari kota ini. Mereka naik kereta api dari Hokkaido ke Tokyo, perjalanan itu mereka tempuh dalam waktu dua hari. Di Tokyo sang istri tinggal di sebuah rumah peristirahatan dekat pantai, sedangkan Aku beserta tiga anaknya tinggal tidak jauh dari tempat itu, hal itu dimaksudkan agar Aku bisa setiap saat mengunjungi istrinya tersebut. Empat bulan pertama kondisi sang istri baik-baik saja,  tetapi memasuki bulan desember penyakit istrinya kambuh, dan pada bulan Januari, ketika  rakyat Jepang sedang merayakan tahun baru istirnya kembali masuk ke rumah sakit.
     Dan pada bulan agustus, ketika anak-anaknya berumur 6,5 dan 4 tahun, maut menjemput istrinya. kematian ini menyadarkan Aku betapa besar cinta kasih dan pengertian istrinya atas jalan hidup yang telah Aku pilih-sebagai seorang sastrawan yang sering dianggap aneh oleh masyarakat Jepang masa itu. Hari-hari berikutnya di isi oleh Aku dengan menulis karya sastra dan surat-surat yang lebih banyak ditujukan kepada anak-anaknya. Dalam surat-surat itu, Aku ingin berdialog dengan anak-anaknya kelak jika mereka kelak dewasa dan dapat mengerti kehidupan. Surat-surat itu berisi nasehat, dan peristiwa yang dialami Aku mulai masa kecil, remaja, dewasa dan kehidupan rumah tangganya. Juga tentang pandangan Aku terhadap nilai-nilai kemasyarakatan dan hubungan kemanusiaan. Dalam suratnya juga tersirat bahwa Aku akan melakukan Seppuku (suatu bentuk bunuh diri yang dilakukan sebagai protes terhadap kekuatan yang lebih besar).
     Di dalam surat itu, Aku mengajarkan tentang cinta kasih, kemanusiaan dan ketidaksukaanya terhadap nilai-nilai tradisional yang dianggapnya sebagai penghalang berkembanganya kreatifitas individu. Salah satu pesan yang ditulis oleh Aku adalah tentang Tuan U, yang dikritiknya sebagai orang yang sangat tradisional cara berpikirnya. Walau Tuan U adalah pegawai pemerintahan dan oleh masyarakat Jepang waktu itu sangat dihormati. Tuan U menderita TBC, sama dengan penyakit yang diderita oleh istrinya. Tetapi Tuan U lebih prcaya terhadap doa-doa di kuil daripada berobat ke dokter. Menurut Aku hal ini adalah kebodohan. Akhirnya Tuan U meninggal dunia dengan meninggalkan dua orang anak. Walaupun Aku mengatakan bahwa Tuan U adalah orang yang bodoh, tetapi Aku mengajarkan kepada anak-anaknya agar memperhatikan anak-anak Tuan U, karena Tuan U meninggal dunia tanpa meninggalkan warisan yang banyak, hal ini bertolak belakang dengan Aku yang dari keturunan orang kaya.
     Aku juga berpesan kepada anak-anaknya agar bekerja menolong orang lain dan untuk selalu mengenang cinta kasih ibunya yang besar. Aku juga mengajarkan anak-anaknya untuk tidak takut dalam menghadapi hidup ini karena menurut Aku pintu selalu terbuka lebar bagi orang yang tidak takut. Aku selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk selalu menjalani hidup ini dengan berani.
     Walau novel ini pendek, tetapi sarat dengan potret pergulatan pola pikir masyarakat Jepang saat itu yang dalam transisi menuju era modern. Pada satu sisi mereka sangat tidak percaya diri dengan nilai-nilai tradisional yang selama ratusan tahun membelitnya, pada saat yang bersamaan mereka juga sangat tertarik dengan nilai-nilai modernitas yang unggul. Walau hanya sebagian kecil saja dari masyarakat Jepang terutama ilmuwan dan sastrawan yang berani untuk protes dan berusaha melepaskan nilai-nilai tradisional yang selama ini membekap pola pikir mereka. Pergulatan ini sangat dasyat dan mampu melahirkan karakter manusia jepang modern yang unik dan unggul. Satu sisi mereka sangat tradisional, pada sisi yang lain, etos-etos modern mereka juga sangat dominan,
Diterbitkan di: Oktober 12, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.