• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Novel>Gading-Gading Ganesha: bahwa cinta itu ada

.

Gading-Gading Ganesha: bahwa cinta itu ada

oleh : javana     

Pengarang : Dermawan Wibisono
Persahabatan, Perjuangan dan Idealisme Serta Cita-cita
       Enam pemuda
: Slamet dari Trenggalek, Poltak dari Pematang Siantar, Ria dari Padang, Benny dari Jakarta, Gun Gun dari Ciamis, dan Fuad dari Surabaya bertemu dan menjalin persahabat di kampus tempat mereka menuntut ilmu, Institut Teknologi Bandung yang juga dikenal dengan sebutah kamus Ganesha. Seperti mahasiswa pada umumnya, mereka juga punya rasa idealisme sekaligus cita-cita yang tinggi. Dengan latar belakang sosial, budaya maupun ekonomi dan watak yang berlainan bukan halangan bagi mereka untuk memupuk rasa persaudaraan.
       Kejadian baik suka ataupun duka, mulai dari kejadian lucu dan konyol, atau yang mengharukan selalu mengiringi langkah mereka bersama. Bahkan juga persaingan cinta dan perbedaan pendapat yang tajam tidak melunturkan rasa persaudaraan diantara mereka. Persatuan yang timbul karena ikatan oleh sebuah kata, perjuangan.
      Setelah melalui berbagai rintangan dan cobaan serta bermacam hiruk pikuk kehidupan kampus, saatnya bagi mereka untuk berpisah dan menjalani kehidupan baru bagi masing-masing individu.
Pada langkah yang lebih luas dan jauh inilah idealisme mereka diuji, terutama dalam menjalani kehidupan yang lebih nyata dan makin kompleks bila dibandingkan dengan kehidupan mereka di dalam kampus. Ada kalanya mereka berada di singgasana atau tahta kursi yang empuk, namun ada kalanya pula mereka harus merangkak di bawah hanya untuk sekedar mempertahankan hidup dan existensi. Roda nasib memang sudah ditakdirkan untuk selalu berputar dan bergerak. Apakah mereka kuat untuk menahan dan mengendalikan roda itu agar berjalan sesuai dengan arah tujuan mereka dan tidak menggilas bahkan menjerumuskan mereka. Di sinilah mereka dihadapkan pada pilihan, mempertahankan idealisme atau memenuhi tuntutan jaman yang berlawanan dengan nurani dan cita-cita awal.
      Setelah sekian tahun mereka sibuk dengan segala macam kenikmatan, godaan dan segala macam warna dan aroma kehidupan, mereka bertemu kembali. Di saat inilah mereka menyadari, tidak ada kostribusi mereka yang nyata terhadap bangsa dan negara. Karya yang mereka hasilkan hanyalah terbatas untuk pemenuhan kebutuhan atas egoisme mereka sendiri. Dari timbulnya kesadaran inilah mereka untuk menjadi pelopor untuk membangun dan mensejahterakan bagi negeri yang mereka cintai ini. Mereka membangun jaringan kampus maupun alumninya dengan tujuan untuk bekerja sama dan meninggalkan rasa kebanggaan yang sempit terhadap kampus atau baju alumni mereka. Mereka ingin menyatukan tekad untuk memberi sumbangsih yang nyata bagi kejayaan bangsa.
      Dengan membaca novel ini akan menjadikan kita sadar bahwa kuliah atau kampus bukan hanya tempat mencari ilmu pengetahuan saja. Namun ayng elbih penting adalah membangun sifat pantang menyerah. Situasi dan kondisi bukanlah alasan ayng tepat untuk maju ke arah yang lebih baik. Yang tepenting adalah selalu berpikir positif. Itu adalah modal utama untuk menjalani kehidupan.
      Menurut rencana, cerita ini akan diadaptasi ke dalam bentuk film layar lebar dan akan dirilis pada awal tahun 2010 mendatang.
Diterbitkan di: September 15, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.