Apa itu priyayi ?
Tidak jelas definisi dari kata priyayi ini. Ada yang mendefinisikan sebagai golongan orang Jawa
yang masih kerabat dan keluarga kerajaan/kraton Mataram ( Yogyakarta dan Surakarta ). Ada pula yang mendefinisikan sebagai orang-orang yang yang menjadi pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Ada pula yang yang mendefinisikannya sebagai golongan non petani dan non pedagang, yang yang dihormati karena kedudukannya di strata masyarakat dan biasanya memiliki pendidikan lebih tinggi dari rakyat kebanyakan.
Buku Para Priyayi : Sebuah Novel , juga tidak menjelaskan definisi yang jelas dari arti kata priyayi, tetapi dengan jelas buku ini menceritakan apa yang seharusnya menjadi sikap priyayi dalam kehidupannya.
Suatu buku yang baik dibaca oleh semua lapisan masyarakat untuk dapat mengerti bagaimana sikap priyayi yang sebenarnya.
Menceritakan kisah hidup tokohnya, seorang desa, Sudarsono, yang oleh orang tuanya yang petani , disekolahkan di sekolah guru agar kelak bisa menapaki kehidupan priyayi yang lebih baik dari kehidupan petani. Suatu pandangan yang sangat maju di zamannya.
Sudarsono yang setelah lulus sekolah guru berganti nama menjadi Sastro Darsono, kemudian mulai menapaki kehidupan kepriyayiannya. Tugas, tanggung jawab dan lingkungannya sebagai guru, sebagai warga masyarakat, sebagai priyayi, sebagai pegawai pemerintah, sebagai suami dan kepala keluarga menuntutnya untuk bisa menempatkan kesemuanya dengan proporsional. Kemampuan Sastro Darsono menjalani semua kehidupannya tersebut akhirnya berbuah hasil dan menjadi dasar dinasti kepriyayianya.
Sastro Darsono memiliki tiga orang anak, Nugroho seorang milter, Hardoyo sorang guru dan Sumini, istri seorang pegawai pemerintahan. Selain itu, Sastro Darsono memiliki seorang cucu jauh, Wage yang kemudian diubah menjadi Lantip.
Kehadiran Lantip, seorang anak luar nikah dari keponakan jauhnya, ternyata menjungkirbalikan kisah keluarga priyayi Sastro Darsono. Lantip inilah yang pada akhirnya menjadi penyelamat keluarga dan menjadi pewaris
"jiwa priyayi" Eyang Sastro Darsono.
Dalam novel ini, tampaknya Alm. Umar Kayam hendak menampilkan arti kehidupan priyayi yang seharusnya bukan hanya sekedar definisi kata semata. Dan tampak jelas bahwa Beliau hendak menyampaikan pesan tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Kehadiran para pelaku cerita dari berbagai kalangan dengan berbagai sikap dan gayanya menunjukan bahwa kepriyayian merupakan suatu sikap hidup yang tidak diwariskan tetapi harus diraih.
Nampak sekali bahwa alm. Umar Kayam hendak menyampaikan pesan bahwa priyayi merupakan suatu sikap hidup. Sikap hidup yang bisa dilakukan siapa saja yang mau melakukannya.
Kalau boleh saya berpendapat, sepertinya sikap priyayi merupakan sikap semangat pengabdian dan keinginan memberi yang terbaik kepada keluarga dan masyarakat. Begitukah ??