• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Buku>Novel>Balzac dan Penjahit Cilik dari Cina

.

Balzac dan Penjahit Cilik dari Cina

oleh : rawnanamhar     

Pengarang : Dai Sijie
“Mozart …,” aku mengguman.
“Mozart apa?”
“Mozart Memikirkan Ketua Mao,” kata Lou menyela.
Nekat sekali
dia. Tapi kenekatannya tepat sasaran: tatapan kejam Pak Kepala Desa melembut, seolah dia baru saja mendengar mukjizat. Matanya menyipit, sementara senyum penuh ketulusan melebar di wajahnya.

Begitulah salah satu potongan adegan pembuka yang jenaka di paruh awal buku (hal.11) yang ditulis Dai Sijie tentang tokoh Aku yang hendak memainkan salah satu komposisi Mozart saat berkenalan dengan penduduk desa Gunung Hong, tempat Aku dan Lou “dididik ulang” setelah menyelesaikan sekolah menengah mereka di awal 1970-an, ketika masa Revolusi Kebudayaan China sedang bergulir. Tokoh Aku yang membawa biola ke desa tujuan awalnya hendak dibakar oleh Kepala Desa. Tapi niat itu diurungkan lantaran mendengar kalau Aku adalah pemusik yang handal.
Dai Sijie sebenarnya hanya ingin mengungkapkan bahwa ketika masa revolusi itu, segala yang berbau Barat, termasuk karya seni dan sastra, dilarang. Pengecualian hanya berlaku kalau itu membicarakan tentang Ketua Mao (Mao ZeDong) atau menguntungkan revolusi.
Kala itu, hanya “Buku Merah Kecil” karangan Ketua Mao yang dibolehkan dibaca dan jadi buku wajib. Bahkan, sampul buku pelajaran dihiasi gambar seorang pekerja dengan lengan sekekar Sylverster Stallone, mengenakan topi dan mengacungkan palu yang amat besar, kata Sijie di halaman 13.
Kehidupan kedua lelaki itu, tokoh Aku dan Lou, kemudian hanya sebatas bekerja mengangkuti berember kotoran manusia di jalan-jalan setapak yang terjal dan berliku-liku. Nyaris tak ada hiburan bagi mereka, kecuali sebuah biola dan persahabatan dengan gadis cantik anak penjahit setempat.
Cerita makin menarik lantaran keduanya lalu berkenalan dengan seorang lelaki, yang juga ikut “pendidikan ulang” di desa terdekat dari tempat mereka, bernama Si Mata Empat. Ia disebut begitu karena berkacamata tebal. Dari lelaki inilah mereka kemudian mengenal buku-buku yang ditulis Balzac, Flaubert, Gogol, Melville, Dumas, hingga Romain Rolland.
Sayangnya buku-buku itu disembunyikan oleh si Mata Empat di dalam sebuah koper—bahkan dibenam di tanah. Karena kalau tidak, bisa saja, salah satu aparat desa menemukan buku-buku itu, akan menyebut mereka sebagai Reaksionaris; kaum pembangkang revolusi. Hanya hukuman beratlah yang bisa menimpal kesalahan serupa itu.
Tak heran kalau tokoh Aku kemudian menulis beberapa lirik dari tulisan Balzac di kulit lapis dalam jaketnya, yang kemudian menjadi bekal Lou mendekati Penjahit Cilik. Pendekatan dengan cara itu tenyata mumpuni. Lou dan Penjahit Cilik menjalin hubungan asmara.
Lebih jauh lagi, suatu hari, Lou dan Aku berencana mencuri buku-buku yang disembunyikan Mata Empat, tepat ketika pesta di desa tempat Mata Empat sedang berlangsung. Rencana itu dijalankan karena Lou ingin membacakan cerita-cerita yang ada di bebuku itu untuk Penjahit Cilik, wanita putus sekolah yang memang sangat haus pengetahuan itu.
Wajah peradaban masyarakat dapat berubah dengan dahsyat hanya karena buku. Rancangan pakaian Pak Penjahit, ayah di Penjahit Cilik, berubah model. Pria-pria gunung memakai atasan pelaut dengan kerah persegi yang berkepak-kepak ditiup angin. Rasanya kita bisa mencium udara Mediterania yang masin (hal.164). Keduanya diminta oleh si penjahit menggambar jangkar berujung lima, dan selama beberapa tahun berikutnya jangkar ini menjadi hiasan paling populer dalam mode wanita di Gunung Hong (hal.165).
Perubahan model itu hasil adaptasi dan rekaan singkat Pak Penjahit atas kisah “ Count of Monte Cristo” yang ditulis Alexander Dumas, yang didengar Pak Penjahit dari Aku selama sembilan malam ketika singgah di desa itu menyelesaikan jahitan pesanan warga desa.
Buku ini nyatanya memang sedang mendongeng tentang buku. Cerita ini ditutup sebuah akhir yang sangat menarik perihal buku pula. Si Penjahit Cilik, yang sejak awal digambarkan begitu rupawan dengan rambut bergerai sepunggung, memotong pendek bermodel bob, berencana berangkat ke kota meninggalkan Lou, kekasihnya. Karena, kata Aku, dia telah belajar satu hal dari Balzac: yaitu bahwa kecantikan seorang wanita adalah harta yang tak ternilai harganya (hal.238).
Dai Sijie dalam menggambarkan geliat kehidupan masyarakat pedesaan di bawah kendali pemerintahan komunis yang sempat dikecap di masa mudanya menulis cerita ini layaknya sedang mendongeng. Sehingga wajar yang ditampilkannya menjadi gambaran karikaturis tentang komunis semisal Ayah Lou yang dokter gigi dianggap selebriti di China lantaran ia pernah memasangkan gigi baru buat Ketua Mao (hal.14) dan membasmi semua cacing yang ada di dalam gigi Ketua Mao (hal.52).<*>
Diterbitkan di: Mei 29, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.