mimpi - mimpi lintang
Maryamah Karpov adalah sebuah novel yang disebut sebagai
cultural literary
non fiction, yang merupakan karya pamungkas
Andrea Hirata, bagian terakhir dari
tetralogi laskar pelangi, setelah novel
Laskar Pelangi,
Sang Pemimpi, dan
Edensor. Dari segi judulnya,
mimpi-mimpi lintang Maryamah Karpov sebenarnya merupakan suatu hal yang sederhana bahkan berkesan sepele serta tidak menentukan secara dominan terhadap jalan ceritanya.
mimpi-mimpi lintang, diambil oleh ikal sang penulis dari nama perahu layar motor, yang dirancang bersama dengan sahabat lamanya, Lintang, yang dengan secara spektakuler telah dibuat dengan tangannya sendiri, walau terkesan mustahil.
Maryamah Karpov, sebenarnya adalah nama seseorang yang tidak penting, yaitu Mak Cik Maryamah yang sering mengajari orang langkah-langkah catur Karpov, maka jadilah namanya Maryamah Karpov. Yang penting dan berkaitan justru anaknya yang bernama Nurmi, sang musisi jalanan yang cantik dengan biola-nya mengamen diujung jalan pojok pasar, yang mengajari Ikal belajar memainkan biola disaat-saat senggang ketika ia sedang membuat perahu layar motor tersebut.
Justru disinilah seninya, memunculkan judul dari hal yang sepele dan tidak penting, tapi sangat mengena! melekat!
Dari isinya, jalan cerita berjalan dengan ringan, mudah dicerna, mengalun indah mendayu-dayu bak tembang irama melayu, ada tinggi ada rendah, kadang mengiba kadang menghina, acapkali memilukan namun tidak jarang menggelikan, menyebalkan tapi tidak menjemukan walau mungkin berlebihan. Saya jamin, pembacanya akan kesulitan untuk berhenti - bahkan sekedar jeda - membaca novel ini, sebelum selesai tuntas. Dan tidak mustahil, walau jumlahnya sebanyak 503 halaman, bahkan bisa diselesaikan dalam semalam saja!!
Keseluruhan isi cerita ini juga menggungkapkan secara telanjang bagaimana sifat, karakter, kondisi, dan peri kehidupan dari masyarakat yang hidup di pulau belitong, dari kalangan Hokian, Ho Pho, kaum Sawang, kaum Bersarung, dan tentu saja suku Melayu Dalam. Khusus Melayu Dalam, dimana Ikal sang penulis adalah salah satu dari kaumnya, digambarkan sebagai kaum yang suka bermimpi, senang berhayal, dan pandai membual. Saking telanjangnya, dalam ceritanya ini Ikal sang penulis justru men-
declare-kan dirinya sebagai ... pemimpi... penghayal... dan pembual.
Hal yang kurang greget justru diakhir cerita, yang malah merupakan antiklimaks dari keseluruhan cerita, yang bukan
happy ending, yang juga bukan sesuatu yang membuat pembaca penasaran - ini mungkin sifat dari type cerita yang
cultural literary non fiction - karena jawabannya sangat jelas... saking jelasnya pembaca hanya perlu merenung beberapa detik untuk memahami, dan..... kecewa.