Di sebuah
kampung pelacuran,
ia dilahirkan.
"Rumahmu di Sarkem, tempatnya lonte, ibumu
juga lonte," ejek
teman-teman di sekolahnya. Berbagai konflik batin pun ia derita: bayi Yu Karti
digaruk di depan matanya; ibunya berselingkuh, pun disaksikannya. Juga sikap
kasar bapaknya. Dan, buto ireng yang hidup di lorong gelap itu
senantiasa mengancamnya.
Lantas ia minggat,
Dan ketika dewasa ia kembali ke kampung mesum itu,
lalu jatuh cinta pada Karti. "Salahkah jika aku mencintai perempuan yang lebih
tua dariku, yang punya ikatan kenangan di masa lalu, yang akhirnya jadi pelacur
itu," bisiknya. Karena cintakah jika ia menolong Karti keluar dari dunia
kepelacuran dan menjadi wanita baik-baik?
Segalanya berakhir pada sebuah pertarungan. Penduduk kampung itu mesti
digusur, karena di kawasan itu hendak dibangun mal terbesar di kota itu. Mereka mencoba bertahan dan
melakukan perlawanan meski harus berhadapan dengan pihak perusahaan milik anak
pejabat tinggi itu, juga mesti menghadapi teror dan intimidasi.
Lalu, cintanya pada Karti? Segalanya harus direlakan, seperti ia merelakan
kampung cabul itu. "Selamat tinggal Sosrowijayan, anak-anakku kelak jangan
sampai lahir di tempat seperti itu... sehingga tak perlu menerima ejekan:
''rumahmu di Sarkem, tempatnya lonte, ibumu juga lonte''."
Resensi lain tentang Lorong Tanpa Cahaya