Halaman Utama Shvoong > Buku > Novel > Lorong Tanpa Cahaya

.

Lorong Tanpa Cahaya

Summary rating: 1 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Ngarto Februana
Review by : ighi
Kunjungan : 41  kata: 300   Diterbitkan di: April 08, 2008


Di sebuah kampung pelacuran, ia dilahirkan.
"Rumahmu di Sarkem, tempatnya lonte, ibumu juga lonte," ejek
teman-teman di sekolahnya. Berbagai konflik batin pun ia derita: bayi Yu Karti

digaruk di depan matanya; ibunya berselingkuh, pun disaksikannya. Juga sikap
kasar bapaknya. Dan, buto ireng yang hidup di lorong gelap itu
senantiasa mengancamnya.

Lantas ia minggat, Dan ketika dewasa ia kembali ke kampung mesum itu, lalu
jatuh cinta pada Karti. "Salahkah jika aku mencintai perempuan yang lebih
tua dariku, yang punya ikatan kenangan di masa lalu, yang akhirnya jadi pelacur
itu," bisiknya. Karena cintakah jika ia menolong Karti keluar dari dunia
kepelacuran dan menjadi wanita baik-baik?

Segalanya berakhir pada sebuah pertarungan. Penduduk kampung itu mesti
digusur, karena di kawasan itu hendak dibangun mal terbesar di kota itu. Mereka mencoba bertahan dan
melakukan perlawanan meski harus berhadapan dengan pihak perusahaan milik anak
pejabat tinggi itu, juga mesti menghadapi teror dan intimidasi.

Lalu, cintanya pada Karti? Segalanya harus direlakan, seperti ia merelakan
kampung cabul itu. "Selamat tinggal Sosrowijayan, anak-anakku kelak jangan
sampai lahir di tempat seperti itu... sehingga tak perlu menerima ejekan:
''rumahmu di Sarkem, tempatnya lonte, ibumu juga lonte''."



Resensi lain tentang Lorong Tanpa Cahaya
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------