Novel diawali dengan bertemunya dua laki-laki bernama Ruben dan Dhimas yang sama-sama berkuliah di luar negeri, tepatnya
di New York, Amerika Serikat. Awalnya mereka saling berbeda pendapat yang mengakibatkan jauhnya kekerabatan mereka.
Dengan kata lain mereka berdua berbeda ideologi.
Namun semua
menjadi berubah setelah satu sama lain saling mengetahui bahwa mereka berdua adalah gay. Akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta. Kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa yang lain. Salah satu kebiasaan buruk mereka yaitu sering mengikuti pesta-pesta gila.
Pada ujungnya mereka berdua berinisiatif untuk membuat sebuah karangan roman yang dapat membuat orang-orang yang membacanya berdecak kagum. 10 tahun menjadi target dalam pembuatan karangan ini. Merekapun tinggal di bawah satu atap.
Cerita yang dibuat mereka diawali tentang seorang lajang sukses yang bernama Ferre. Ferre adalah seorang karyawan yang super sibuk. Jadwalnya pun jarang sekali kosong. Tetapi entah mengapa, pada suatu hari jadwalnya sangat kosong. Hanya ada satu interview dengan sebuah majalah. Interview pun dilakukan. Satu yang menarik, antara Ferre dan wartawan majalah yang bernama Rana ini ada perasaan satu sama lain. Akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta.
Kemudian kisah yang dibuat mereka juga menceritakan tentang seorang model yang merangkap menjadi pelacur yang bernama Diva. Awalnya dia adalah model yang sukses. Tetapi reputasinya menurun dikarenakan perkataannya yang sangat pedas pada sebuah acara pergelaran busana anak-anak. Akhirnya diapun pensiun dari dunia model.
Konflik terjadi disaat percintaan Ferre dan Rana diketahui oleh Arwin,yaitu suami dari Rana itu sendiri. Kemelut pun terjadi. Ferre mencintai Rana dan Rana juga ingin bercerai dari suaminya akibat ketidakcocokan mereka.
Kemampuan pengarang memaparkan kemelut dalam percintaan dengan sangat baik merupakan salah satu kekuatan novel ini. Kemelut dan kejadian yang dibawakan dalam novel ini sangatlah deskriptif, membuat para pembaca ikut terhanyut membayangkan kejadian tersebut. Kelebihan lainnya dalam novel ini adalah bahasanya yang cukup ringan dibandingkan dengan novel-novel sastra lainnya.
Penokohan dalam novel ini semuanya adalah protagonis. Tokoh Ruben digambarkan memiliki sifat pemikir yang sangat kecanduan terhadap kopi. Sedangkan tokoh Dhimas memiliki sifat yang gampang mendapatkan inspirasi dan pemikir yang cukup kritis.Sudut pandang mahatau yang yang digunakan dalam novel ini juga mendukung keseluruhan cerita.
Novel ini sarat dengan amanat. Salah satu amanatnya adalah dibalik suatu kekurangan pada diri manusia janganlah dijadikan penghalang dalam beraktivitas. Contohnya seperti Ruben dan Dhimas.Pasangan gay ini tetap melakukan aktivitasnya seperti orang-orang normal disekitarnya.
Istilah-istilah asing dan bahasa yang cukup rumit menjadi salah satu kelemahan buku ini. Contohnya seperti kutipan kalimat berikut, “Proses arus-balik itu kemudian menyebabkan sistem teramplifikasi, hingga tiba di titik dimana ia mengalami fluks, atau disodori “pilihan untuk berubah”. Mungkin untuk sebagian orang yang memiliki penguasaan kosa kata yang cukup mendalam, kalimat ini bukan menjadi suatu masalah. Tetapi bagaimana jadinya bila kalimat seperti ini disodorkan kepada orang-orang awam.
Jika Anda membaca novel ini, mungkin Anda tidak bisa berhenti di tengahnya, novel ini mampu membuat pembacanya terus tertarik hingga akhir cerita. Karena itu cobalah membaca novel ini dan nikmatilah cerita yang dibawakannya.