Menceritakan
tentang kehidupan Holly Canshannon, seorang wartawati
di perusahaan Koran Bristol Gazette yang meliput tentang
pemakaman hewan-hewan. Meliput berita tersebut sama sekali membosankan baginya.
Tapi tetap juga dijalaninya
karena jurnalistik adalah hobi sekaligus pekerjaannya.Sampai
suatu hari teman wartawannya dibagian kriminal,
Pete, mengudurkan diri karena juga merasa, yah, bosan. Holly, akhirnya mendapat kesempatan untuk
menggantikan Pete di bagian kriminal. Joe, editornya menugaskannya untuk
menulis keseharian
detektif James Sabine, dibagian kriminal, kepolisian di
kotanya. Di pekerjaannya barunya, Holly mulai mengalami berbagai kejadian
menyenangkan sekaligus menegangkan. Walapun tugasnya hanya tiga minggu tetapi
bagaikan setahun bagi Holly.
Detektif
yang harus selalu dibayanginya ternyata memiliki karakter yang cukup
menyeramkan bagi Holly, suara yang keras,
tidak pernah tersenyum, disiplin,
walapun memiliki postur tubuh sempurna untuk seorang pria. Tugasnya mirip
menulis diary, menulis segala kejadian di sekitar detektif terutama yang
berhubungan
dengan kepolisian, sehingga bisa meningkatkan citra masing-masing
kedua departemen, kepolisisan
dan penerbitan tempat Holly bekerja. Halaman
pertama tulisan Holly tentang pribadi James sebagai awal perkenalan tokoh
beserta aktivitas kesehariannya. Selanjutnya tentang awal kejadian pencurian
barang-barang antik hingga di temukannya sang pelaku pencurian. Di mana ada
detektif James, maka Holly pun ada disana, mereka saling berdiskusi dan
bertukar pikiran tentang masalah pencurian tersebut. Awalnya James merasa Holly
adalah penghalang baginya, kenapa tidak, Holly adalah gadis ceroboh, mudah
terjatuh, terpeleset, memar dan luka-luka. Padahal penyebab kecelakaan kecilnya
adalah kesalahannya sendiri dan ketidaksengajaannya bersenggolan dengan
benda-benta mati. Tidak heran, salah satu dokter rumah sakit sudah sangat
mengenalnya karena sering diperiksa olehnya.
Selama tiga
minggu bersama Holly dalam melakukan tugasnya sebagai seorang detektif, membuat
James merasakan getar cinta dalam hatinya, padahal sebentar lagi ia akan
melaksanakan pernikahan dengan pacarnya, seorang gadis baik hati dan kaya raya bernama
Freud yang bekerja di yayasan amal. Perasaannya tumbuh seiring kebersamaanya
bersama Holly setiap hari selama tiga minggu. Sifat menyeramkannya pun mulai
hilang, dia mulai bersikap ramah dan terbuka dengan Holly dan keluarganya.
Pada saat
yang sama pula, artikel diary berseri Holly yang bernama The real dick tracy’s diary” mendapat sambutan luar bisa bagi
penggemarnya, oplah surat
kabar tempat Holly bekerja terjadi peningkatan, para pembaca artikelnya malah
meningkat setelah tulisan artikelnya disertai foto-foto kegiatan Holly dan
detektif James yang sangat seru sekaligus romantis. Melihat peningkatan
kariernya tidak membuat Holly bahagia malah merasa sedih karena sebentar lagi
akan berpisah dengan James, sang pujaan hatinya.
orang tua
Holly memiliki sifat yang humoris, riang dan pandai berakting, wajar karena
pekerjaanya bergerak di bidang teater, tetapi menurut Holly sikap seperti itu
kadang membuatnya malu karena kedua orang tuanya, sering membuat heboh tanpa
mengenal tempat, terutama ibunya. Walaupun demikian Holly sangat menyayangi
kedua orang tuanya dan mengenalnya sebagai orang yang unik.
Lizzie,
sahabat Holly, sifatnya manja. Kehidupan keluarganya dengan Holyy sangat jauh
berbeda. Holly yang di besarkan di lingkungan sederhana sedangkan Lizzy dalam
lingkungan orang kaya. Perbedaan yang besar pula yang mampu membuatnya saling
melengkapi sesamanya.
Novel ini sangat sreu untuk dibaca hingga akhir, mengajarkan
kita untuk terus berusaha mengejar impian. Walaupun di depan mata tampak tidak
ada jalan, tetapi tetap ada keluarga dan sahabat yang akan membantu dan
menemani dalam menjalani kehidupan beikutnya yang terus berjalan.
Resensi lain tentang Pura-pura jadi detektif