Judul Buku : Lumpur Similiar - Misteri Perangkap Cinta
Pengarang : Alfian Malik
Penerbit : Akoer
Tahun : I, Desember 2007
Alfian Malik, lewat novelnya “Lumpur Similiar –
Misteri Perangkap Cinta” berusaha memadukan kisah cinta dalam balutan
dunia supranatural bahkan mistis. Adalah Tegar Patih, putra
seorang pembantu Presiden, pemegang gelar Doktor Antropologi Universitas
Leiden, tengah dalam persiapan untuk mengikuti lomba reli
Sabang-Merauke (Sabang-Merauke International Event Rally-SMILER) dengan
menyusuri rute Riau-Sumatera Barat untuk melakukan penjajakan awal.
Karena jalan penghubung antara Riau-Sumatera Barat terputus akibat
gempa, maka ia terpaksa menempuh jalan tembus melewati pedalaman hutan
yang sangat rawan.
Tidak disangka, seorang perempuan rivalnya sesama
pereli mengikuti jalannya. Perempuan tersebut bernama Khariza, seorang
lulusan perguruan tinggi ternama
di Inggris
dan istri dari seorang
perwira tinggi kerabat kesultanan Brunei. Berdua
mereka melakukan
perlombaan sebelum lomba yang resmi benar-benar dimulai, sampai
akhirnya keduanya tersesat di
sebuah desa pedalaman yang diberi nama
Lumpur Similiar.
Dari ketersesatan itulah
keduanya mulai saling akrab. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk
bermalam di sebuah pondok yang sepertinya tidak berpenghuni. Mereka
pada mulanya tidak menyadari keberadaan Datuk Tinggi, sang pemilik
pondok yang ternyata adalah penguasa
negeri Lumpur Similar, sampai
akhirnya lelaki itu menampakkan diri dan memperingatkan kepada keduanya
atas dosa yang telah mereka lakukan di negeri terpencil itu.
Bagi penduduk Desa Lumpur Similiar, adalah tabu dan
perilaku dosa seorang lelaki dan wanita yang bukan suami istri berduaan
di tengah malam di dalam pondok orang lain. Perbuatan itu bisa
mendatangkan kesialan dan bencana yang besar bagi negeri Lumpur
Similar. Atas dosa yang telah mereka lakukan tersebut, mereka harus
membersihkan diri dengan menjalani serangkaian ritual adat selama
beberapa purnama yang berujung pada pernikahan keduanya secara adat.
Setelah itu baru keduanya diperbolehkan untuk meninggalkan negeri itu.
Maka dimulailah rangkaian ritual pernikahan adat tersebut yang beraroma
magis dan mistis. Sementara waktu, Khariza dan Tegar Patih harus
berpisah untuk menjalani ritualnya masing-masing dan tidak
diperkenankan untuk bersama-sama. Pun ketika seluruh ritual pernikahan
tersebut selesai, keduanya tidak diperbolehkan tinggal serumah sebelum
membangun rumah sendiri yang kelak akan diwariskan kepada anak-anak
mereka. Dari keterpisahan itulah timbul benih-benih cinta dan rasa
rindu yang semakin kuat. Keduanya merasakan perasaan yang sama.
Ketersesatan telah menjadi sebuah anugerah yang mempertemukan keduanya
di sebuah negeri damai yang belum terjamah peradaban moderen. Namun,
tepat di saat Tegar Patih telah menyelesaikan sebuah rumah dari hasil
kerja kerasnya sendiri di negeri terpencil itu dan hendak menempati
rumah barunya bersama Khariza, di saat itulah sepasukan TNI menemukan
dan membawa mereka kembali ke peradaban mereka semula, sebelum mereka
sempat menikmati malam pertama yang dinantikan. Penantian panjang akan
malam pertama yang tertunda itulah yang menjadi titik awal dan titik
akhir novel ini.
Resensi lain tentang Lumpur Similiar