Jika Tuhan memang ada, tidak hanya Ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari segalanya, Ia ahli menyembunyikan diri.
Sepotong kalimat itulah yang mungkin akan terlontar jika
membicarakan tentang evolusi. Dalam teori evolusi Darwin, tidak ada
tempat bagi Tuhan dalam penciptaan kehidupan manusia di planet Bumi.
Kehidupan di planet Bumi tercipta bermilyar-milyar tahun yang lalu dari
bakteri purba bersel satu yang berevolusi secara kebetulan tanpa adanya
campur tangan pencipta. Seiring perkembangannya, teori evolusi Darwin
banyak ditentang terutama oleh kalangan agama, hingga muncul sosok Pierre Teilhard de Chardin
yang mencoba mengintegrasikan fenomena evolusi dengan doktrin teologis
menjadi suatu pandangan dunia yang koheren. Teilhard mengungkapkan
tentang Hukum Kesadaran-Kompleksitas, yang menyatakan bahwa evolusi
berlangsung menuju peningkatan kompleksitas yang dibarengi dengan
munculnya kesadaran yang mencapai puncaknya pada spiritualitas manusia.
Pada akhirnya, evolusi akan menemui Tuhan sebagai sumber dari segala
mahluk dan terutama sebagai sumber dari kekuatan yang meniscayakan
berlangsungnya proses evolusi.
Jostein Gaarder,
dalam novelnya yang berjudul Maya, hendak merangkum proses panjang
evolusi manusia menuju munculnya kesadaran manusia lewat dialog-dialog
cerdas para tokohnya. Tak hanya itu, ia dengan piawai memadukan kisah
cinta, dongeng, misteri, filsafat, pengetahuan ilmiah, seni dan sejarah
serta spiritualitas menjadi satu jalinan kisah yang kompleks tapi
memikat.
Resensi lain tentang Maya