Halaman Utama Shvoong > Buku > Novel > Saman : Bacaan Berpengaruh dan Membuat Candu

.

Saman : Bacaan Berpengaruh dan Membuat Candu

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Ayu Utami
Review by : AriandanaSegara
Kunjungan : 122  kata: 900   Diterbitkan di: Maret 11, 2008
Pujian khusus ditujukan kepada Pamela Allen untuk kesuksesannya
menerjemahkan novel ''Saman'' karya Ayu Utami  yang mendapatkan semua
kekayaan asli dari bahasa pengarang --yang sebelumnya telah menuai
banyak decak kagum dari kritikus sastra.

Frasa, ungkapan dan metafora dalam pilihan prosa Ayu Utami telah
diinterpretasikan tanpa menghilangkan unsur budaya dan polotik.
Contohnya, metafora lokal seperti ''tanak nasi --- yang memungkinkan
untuk diterjemahkan sebgai ''cooked like rice'' ---telah dipadankan
dengan ''bread fresh from the oven''.

Kebebasan budaya dan politik menjadi tema utama karya ini, yang
berhasil memenangkan penghargaan fiksi di tahun 1998 --tahun yang
menandai terobosan karya novel dan membuka jalan bagi generasi baru
sastra Indonesia kontemporer.

Saman adalah tentang persahabatan empat wanita muda --Laila, penulis;
Yasmin, pengacara; Shakuntala, penari, dan Cok, wanita karir --- and
karakter protagonis yang menjadi judul, Saman, pendeta Katolik yang
menjadi aktivitis hak asasi.

Dengan seting kondisi sosial di tahun 1990-an di bawah pemerintahan
tangan besi Presiden Soeharto, kisah ini menjabarkan usaha-usaha Saman
untuk menolong penduduk desa menentang satu perusahaan perkebunan besar
di Prabumulih, Sumatera Selatan.

Dengan kekuatan militer di belakang,perusahaan perkebunan itu menindas
penduduk desa dan menangkap pemimpin dan aktivitis-aktivis. Berkat
bantuan empat wanita muda, Saman mengatur rencana untuk melarikan diri
ke New York melalui perjalanan panjang yang rumit.

Konteks politis dalam ''Saman'' masih relevan dengan situasi sekarang
meskipun Indonesia telah mengalami transisi dalam demokrasi.
Terbunuhnya aktivis HAM,Munir, masih menunjukkan bahwa usaha aktivis
dalam memperjuangkan hak-hak rakyat terhalang kekuasaan dan mengalami
tekanan.


Karena itulah tekanan politik dan pergerakan kaum bawah, dan juga
seting ''Saman'' secara jelas mewakili keyataan, meskipun semua karakter
dan jalan cerita adalah fiktif.


Bagi pembaca awam, novel ini bisa jadi membingungkan karena plotnya
yang melompat-lompat drai waktu ke waktu dan dari peristiwa-peristiwa
tidak secara berurutan.


Ayu, jurnalis pertama dari majalah dua mingguan, Forum Keadilan, dan
anggota pendiri the Alliance of
Independent Journalists (AJI), melakukan riset yang seksama ---dan
membaca ''Saman'' sama seperti membaca artikel bernarasi dalam tajuk
berita di surat kabar.


Selain mengungkapkan kekejaman rezim, ''Sama'' juga menyuguhkan
informasi-informasi faktual,seperti lewat hubungan Laila dengan pria
beristri Sihar, yang bekerja untuk sebuah perusahaan eksplorasi minyak.
Ayu menunjukkan kemampuannya dengan detil saat mendeskripsikan Lautan
Natuna, tempat kedua insan itu bertemu pertamakali.
Penulis juga mengkonfrontasikan beberapa hal yang secara budaya
dianggap tabu, pengamblangan tutur seksualitas oleh wanita dan ''aturan''
yang membuat wanita menjadi tidak setara dengan laki-laki.



Tanpa tameng, tanpa jengah, penulis mendiskusikan hubungan intim,
hubungan di luar nikah,orgasme dan topik-topik lain yang masih dianggap
tabu untuk dikemukakan dengan sudut pandang seorang wanita.
Kritikus tradisional menempatkan karya Ayu Utami ini sebagai novel
vulgar karena penggunaan banyak kata-kata seperti penis, vagina, dan
orgasme,dan memposisikan ''Saman'' sebagai tulisan eksploitasi
seksualitas. Di sisi yang lain, pengungkapan dan perlakukan yang
diberikan pada perihal ini justru adalah kekuatan novel sebagai bagian
dari sastra Indonesia.

Ayu juga memunculkan isu feminin lain,contohnya, mengapa wanita harus
memakai nama ayah atau suaminya -- Shakuntala, mengubah namanya menjadi
Shakun Tala saat membuat visa untuk belajar ke luar negeri ---
merupakan bentuk pengukuhan identitas diri.

Isu yang lain termasuk persamaan gender, keadilan, dan perayaan seksualitas --semua  tema yang tidak populer di masa Soeharto.

Dan di tengah-tengah konflik antar agama dan etnis yang muncul dalam
sejarah bangsa, novel ini juga menawarkan multi budaya dan toleransi
lewat karakter-karakter suku Jawa, Minangkabau, Batak, dan keturunan
Tionghoa, yang berhimpun dalam satu hubungan yang harmonis.selves.

Sayangnya, versi Bahasa Inggris tidak begitu menunjukkan hubungan
indah dan menyentuh antara Saman yang Katolik dan masyarakat desa
Muslim.


Keharmonnisan antar agama masih belum terjadi  di negara ini, dan
''Saman'' mengetengahkan sebuah respon yang memungkinkan bagi
lembaga-lembaga tertentu, yang hingga saat ini, belum memperbolehkan
pluralisme, kebebasan, dan ibadah antar agama.


Novel ini mengingatkan kita akan masalah politis dan budaya bangsa
ini yang berkelanjutan dan membutuhkan titik terang.The novel also
reminds us of the nation''s unfinished political and cultural problems
that need addressing.



Mungkin saja, isu terbesar dalam novel ini tidak akan tuntas
terselesaikan,namun dengan membaca fiksi yang ''benar-benar nyata'' ini,
pembaca akan memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menyikapi masalah
dan mencari solusinya -- pengaruh positif yang diilustrasikan oleh
nilai-nilai ''Saman.
Pesan bagi penerjemah dan
penerbit, setelah membaca ''Saman'', pembaca setia Ayu Utama akan tidak
sabar menanti, versi Bahasa Inggris dari sekuelnya,''Larung''. (Tulisan oleh A.Junaidi)


Resensi lain tentang Saman : Bacaan Berpengaruh dan Membuat Candu
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------