Ayat-Ayat CInta
Summary rating: 3 stars
42 Tinjauan
Kunjungan:
1303
kata:
600
Diterbitkan di: Februari 11, 2008
10 Februari 2008 - 23:28:41Isi Resensi : What a Wonderful Moment!“Jangan menikah dulu sebelum membaca novel ini”Begitulah
pesan teman yang merekomendasikan buku ini ke tangan saya. Saya sempat
keheranan dengan pernyataan tadi. Yang saya tahu dari sinopsis film
Ayat-ayat Cinta (saya memang ketinggalan, baru mengetahui novel ini
setelah filmnya dibuat) menceritakan kisah seorang mahasiswa Indonesia
di Cairo, Mesir.Awal membaca buku ini saya terkesan pada
tulisan Kang Abik yang lembut, yah sempat sedikit bosan karena saya
terbiasa membaca cerita yang beralur cepat dan dinamis. Namun setelah
itu saya mulai menikmati keindahan paparan kehidupan Mesir serta
gambaran kota Cairo dan musim panasnya. Ditambah lagi beberapa
pembelaan Islam dari sudut pandang yang adil dan proporsional membuat
novel ini semakin membuai. Konflik yang mengawali pertemuan Fahri dan
Aisha yang membuat saya meneruskan membaca lembar demi lembar.Poin
positif yang saya temukan dalam buku ini adalah penggambaran Kang Abik
bahwa Islam itu adalah sebuah karunia. Banyak penuturan tentang Islam
yang dilandasi dalil-dalil kuat bahwa Islam mengajarkan kelembutan,
perdamaian juga keindahan. Baik bagi umat Islam itu sendiri maupun
mereka yang non-Islam. Islam jauh dari penggambaran negative yang
selama ini marak terjadi. Insya Allah mereka yang non-muslim juga akan
dapat menikmati novel ini meski latar belakang Islam dalam cerita ini
begitu kental. Novel ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan negative
tentang Islam dengan bahasan lugas dan jelas.Penulisan Kang
Abik tentang Mesir dan sosial budaya masyarakatnya juga terasa pas.
Kita diajak untuk melihat masyarakat Mesir dengan segala kelemahan dan
kelebihannya tanpa ada kesan menggurui dan menghakimi.What a wonderful moment! Saya menemukannya ketika sampai pada bagian ta’aruf Fahri.---“Anakku,
tunggulah nanti sebentar lagi ketika kau sudah duduk di ruang tamu dan
gadis itu masuk bersama walinya kau akan merasakan panas dingin yang
luar biasa. Panas dingin yang belum pernah kaurasakan. Apalagi kala kau
dan dia nanti sesekali mencuri pandang. Suasana hatimu tidak akan bisa
kaulupakan seumur hidupmu. Inilah keindahan Islam. Dalam Islam hubungan
lelaki perempuan disucikan sesuci-sucinya namun tanpa mengurangi
keindahan romantisnya.” Kata-kata Syaikh Utsman menambah tubuhku
semakin dingin.---Subhanallah, Allah menciptakan cinta yang
indah di antara laki-laki dan perempuan. Cinta yang dibingkai dalam
sebuah ikatan pernikahan.Pernikahan Fahri yang tidak
digambarkan secara dramatis seperti novel cinta pada umumnya terasa
lebih romantis. Kisah cinta yang sangat menyentuh. Pun ketika cinta itu
mendapatkan ujian. Kekuatannya tak terpatahkan, karena landasannya
begitu kuat –Allah, The Great–Hal yang tidak saya duga adalah
paparan awal tulisan tentang Maria, Aisha, Nurul dan Nourma. Saya kira
hanya satu gadis yang akan menjadi kunci cerita, tapi ternyata
kesemuanya memegang peran sebagai kunci. Hal yang agak menganggu adalah
pada akhir cerita Maria, kok jadinya malah seperti ending opera sabun
ya. Padahal keseluruhan cerita jauh berbeda dari pakem tersebut.Overall,
novel ini sangat mengagumkan. Kang Abik telah berhasil memberi paparan
yang bagus tentang cinta dalam Islam. Islam merupakan agama yang penuh
keindahan, cinta dan perdamaian.