Novel ketiga yang ditulis Ngarto Februana ini menceritakan kehidupan seorang bekas anggota Angkatan Udara, Kardjono, yang kemudian hidup terlunta-lunta menjadi pemulung
di Yogyakarta. Menjelang peristiwa G30S, Djon—panggilan Kardjono--adalah bintara Angkatan Udara yang ditugaskan komandannya melatih sukarelawan di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Walau
ia tidak tahu menahu tentang politik, apalagi Partai Komunis Indonesia (PKI), hanya karena mematuhi perintah komandan, ia dituduh terlibat gerakan yang oleh Orde Baru disebut pemberontakan G30S/PKI. Lalu Djon ditangkap Operasi Kalong. Ia ditahan selama beberapa tahun tanpa pernah diadili. Cerita dimulai
dengan kilas balik, berlatar waktu 1989, ketika itu Djon sedang beristirahat,
dan di hadapannya seperti tergambar peristiwa yang terjadi pada 1965. ”Dalam gelap malam, iring-iringan truk militer melaju. Tentara mengepung sebuah rumah mewah. Di sebuah kamar tiga orang sedang tidur.....” Setelah keluar dari tahanan, ia kehilangan jejak keluarganya, dan tak punya pekerjaan. Demi menyambung hidup, ia menjadi pemulung, bersama tiga teman senasib—yang juga mantan
tahanan politik. Di Yogyakarta, pada tahun itu, akhir 1980-an dan awal 1990-an, sedang tumbuh gerakan mahasiswa. Secara tidak sengaja, ia pernah bertemu Mirah, mahasiswi Universitas Gadjah Mada, seorang aktivis yang menganut paham Marxisme-Leninisme. Cerita terus bergulir, dengan alur perpaduan antara kilas balik dan kronologi. Hingga pada akhirnya Djon menemukan kembali keluarganya. Konflik politik, konflik batin mewarnai kisah-kisah dalam novel ini sehingga membuat jalinan cerita dalam novel ini sangat memikat. Sebelum terbit, novel ini pernah pernah dipresentasikan di Majelis
Sastra Asia Tenggara, 2001, dan setelah itu dimuat secara bersambung di harian
Jawa Pos, Surabaya. Beberapa tokoh memberi komentar dan bahkan membuat ulasan panjang. Dr. Anhar Gonggong, sejarawan, berkomentar: "
Tapol merupakan novel yang didasari oleh fakta sejarah. Dan ini diolah oleh penulisnya dengan sangat baik. Dari situ kita dapat membaca sketsa tragedi manusia yang terjadi dalam lingkaran sejarah menusia Indonesia yang tragis, yaitu G30S/PKI, 1965." Sementara itu, Bakdi Soemanto, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, mengatakan: "Novel ini disusun dengan mengandalkan penelitian. Penulisnya, Ngarto Februana, tampaknya menjaga benar agar data yang diperolehnya tetap utuh, otentisitasnya terasa, sekaligus juga menyentuhkan nuansa sebagai fiksi. Membaca novel ini seperti melihat sejarah tetapi memiliki dimensi kedalaman." Novel ini banyak mendapat respons dari mahasiswa fakultas sastra, khususnya dari jurusan sastra Indonesia, untuk dijadikan bahan kajian penulisan skripsi. Di antaranya adalah Yuyud Eka Asmawan,
mahasiswa Fakultas Sastra/Sastra Indonesia, Universitas Negeri Jember, Jawa Timur. Dalam kajiannya berjudul "Kajian Politik Kekuasaan pada Novel
Tapol Karya Ngarto Februana", ia mengatakan: “Aspek politik kekuasaan sangat dominan dalam novel Tapol, sehingga novel tersebut sangat menarik perhatian para peneliti politik di dalam karya sastra. Hal ini dapat menimbulkan daya tarik bagi masyarakat pembaca karena berwawasan politik, terutama mengenai kekuasaan. Politik kekuasaan sangat bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah pengetahuan.” Sementara itu, Esti Susilarti
, dalam sebuah resensinya di
Kedaulatan Rakyat, Minggu, 10-11-2002, menulis: “Karena itulah,
setting cerita dengan lokasi Jakarta, Yogya, Klaten, Madiun bisa dijalin dengan gamblang. Sehingga sebagai novel, karya Ngarto Februana ini enak dibaca. Dengan tebal 175 halaman, membuat orang tidak
awang-awangen untuk membaca. Dari bahasa yang cukup ngepop mengalirlah menjadi kalimat rancak. Penulis terasa sangat menghayati substansi novel. Hal itu bisa dilihat dari nuansa emosi yang ‘dilekatkan’ pada tokoh-tokoh.” Sebuah komentar panjang ditulis oleh J.J. Kusni, yang didistribusikan melalui beberapa mailing list. Antara lain, Kusni mengatakan: ”Dengan memilih tema
tapol dan bahkan menjadikan kata
Tapol sebagai judul novelnya, aku memahaminya bahwa Ngarto Februana juga tidak bisa menutup mata nurani kemanusiaannya akan masalah bangsa dan negeri serta jutaan korban yang belum berakhir hingga sekarang.
Resensi lain tentang Tapol