GADIS PANTAI
Judul : Gadis pantai,
2002.
Penulis : Pramoedya Ananta Toer.
Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta, 2003.
Tebal : 270 halaman.
Inilah potret nasib buruk kaum perempuan desa di bawah feodalisme Jawa selama beberapa
abad bahkan sampai abad 20. Tokoh utamanya hanya disebut Gadis pantai, walau tanpa nama
dia mewakili segolongan kaum wanita dari keluarga desa yang miskin
dan tidak berpendidikan. Settingnya adalah kabupaten Rembang di pantai utara Jawa pada
awal abad 20.
Suatu hari dia dikawini oleh seorang pribumi pejabat pemerintah kolonial yang tidak dia kenal. Apa yang dia tahu hanyalah dia harus taat dan hormat pada suaminya yang dipanggil
bendoro (sebutan kehormatan untuk kaum feodal Jawa). Sampai menikah dan punya anakpun dia tidak memiliki hubungan hati ke hati dengan suaminya. Tidak ada hubungan manusiawi.
DI rumah tempat tinggalnya ada bagian di mana dia tidak pernah menginjakkan kaki, bahkan masih ada ruangan yang baginya tetap asing selamanya. Di rumah kabupaten itu ada beberapa anak yang tidak ada ibunya karena mereka sudah dicerai sedangkan anak anak itu diasuh pembantu.
Suatu hari datang Mardinah, seorang pelayan baru. Dia anak seorang jurutulis dari kota. Sikapnya berani kepada Gadis pantai. Belakangan terungkap bahwa dia diutus bendoro putri bupati demak untuk mengupayakan agar anak bendoro putri bisa dikawini oleh suami Gadis pantai. Mardinah diberi janji apabila berhasil maka dia akan diambil jadi istri kelima.
Secara ekonomi dan sosial memang gadis pantai mengalami kemajuan. Dia naik kelas sosial dan ekonomi. Ketika dia diberi iji pulang ke desanya untuk menegok orang tuanya, orang se desa menyambut meriah dan memperlakukannya dengan istimewa. Dia biayai pesta dan dia beri kain kepada tetua kampung.
Suatu saat Gadis pantai hamil dan beberapa bulan kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Jenis kelamin perempuan ini membuat suaminya kecewa. Tidak lama kemudian orang tua Gadis pantai datang menjenguk anak cucunya. Bendoro memanggil bapak Gadis pantai ke dalam rumah. Ketika keluar wajahnya sudah suram karena Gadis pantai sudah dicerai ! Bendoro memberi uang dan dia harus membawa Gadis pantai meninggalkan rumah bendoro segera, sedangkan bayinya harus ditinggal dan akan di asuh pembantu. Sampai di rumah Gadis pantai tidak mau tinggal. Dia memilih pergi. Selama sebulan dia masih sering lewat depan rumah bendoro, tapi setelah itu tidak lagi.
*
On day at the age of fourteen she was married to a local colonial official that she did not know. All that she knew was that she had to obey and respect her husband.
Sampai suatu hari dia dan orang tuanya mendapat pemberian sedikit harta tapi harus meninggalkan rumah itu selamanya karena dia sudah dicerai. Dia juga harus meninggalkan anaknya yang masih bayi yang akan diasuh oleh para pembantu.
Resensi lain tentang Gadis Pantai