Nefertiti
Summary rating: 4 stars
3 Tinjauan
Kunjungan:
288
kata:
900
Diterbitkan di: Nopember 08, 2007
Nefertiti
The Book of the Dead:Ratu Mesir, Dewa Matahari, dan Penguasa Dua Dunia
Penulis: Nick Drake
Penerjemah: Bima Sudiarto
Penerbit: Dastan Books
Cet. I, Februari 2007, 588 halamanKemisteriusan dunia spyonaze dan kedetektifan memang sangat
menarik untuk ditelanjangi dan dieksplorasi. Hal ini nampak dari berbagai karya
yang menceburkan diri dengan tema-tema yang berhubungan dengan dunia ini. Dari
film-film kelas dunia seperti James Bond,
Sherlock Holmes, Tintin, hingga karya-karya tulis fiksi seperti; Caging The Raven, Sandi Magdalena, da Vinci
Code, Daugther of God, Red Leaves, sampai komik asal Jepang, Detective Conan. Dunia spy atau detektif, yang
penuh teka-teki membuat para penulis dan sineas begitu gandrung untuk membuat dan
menampilkan cerita “misteri” baru yang menarik minat khalayak. Tengok saja film
James Bond. Film yang bertutur tentang aksi agen M16 ini, sampai menelurkan
beberapa genre title. Dari film James Bond yang dibintangi George Clooney
hingga The Royale Casino yang
beberapa bulan lalu mengisi layar bioskop Indonesia.
Kalau di layar bioskop ada
film James Bond, di dunia karya tulis fiksi ada nama Rahotep dalam novel Nefertiti.Cerita dimulai dengan
datangnya surat tugas untuk sang detektif muda, Rahotep. Penguasa Mesir, Raja
Akhenaten, kehilangan permasurinya, Nefertiti. Raja Arkhetan kemudian
memberikan waktu sepuluh hari kepada Rahotep untuk menyelidiki kasus ini. Tugas yang berat ini
diterima Rahotep dengan perasaan was-was. Hanya dengan waktu sepuluh hari ia
harus memecahkan kasus ini, bila gagal nyawa dan keluarganya akan dilenyapkan. Hilangnya
Nefertiti secara tiba-tiba dan tanpa jejak semakin membuat masalah yang dihadapi
Rahootep kian complex.Rahotep datang ke
Akhetaten —ibukota Mesir yang baru— dengan beribu misteri. Di kota yang belum
dikenalnya ini petualangan detektif muda ini dimulai. Persoalan barupun muncul,
sesosok mayat yang mirip ratu ditemukan. Bila benar mayat itu ratu maka
habislah semua. Namun, setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata itu bukan mayat
ratu. Untuk sementara nyawa Rahotep selamat.Layaknya Bond yang dalam
setiap laganya selalu bergelut dengan musuh dan upaya pembunuhan, Rahotep pun
mengalami hal yang sama. Rahotep baru saja mengetahui identitas mayat yang
mirip Ratu Nefertiti, dan ia segera ingin meneruskan penyelidikannya di Istana
Harem. Namun, Mahu (sang inspektur polisi) mengajak berburu, Rahotep tak bisa
menolak. Di sela-sela acara berburu inilah upaya pembunuhan atas Rahotep
dilakukan. Rahotep dalam bahaya, mata anak panah milik orang yang bernama Hor
mengarah padanya. Nyawa Rahotep hampir saja melayang, jika Khety (asistennya)
tidak bertindak. Lagi-lagi nyawanyapun terselamatkan. Penyelidikanpun
dilanjutkan, dan bukti-bukti yang didapatkan Rahotep sedikit demi sedikit dapat
membuka tabir misteri hilangnya Nefertiti. Isi cerita novel dengan setting
Mesir era Fira’un ini, semakin menarik, penuh intrik, artistik, dan futuristik, disertai tokoh-tokoh yang
mengagumkan. Jalan cerita yang halus, dengan deskripsi yang detail, menambah
nuansa tersendiri dalam cerita novel ini. Nirk Drake nampaknya ingin
menyuguhkan novel ini seilmiah mungkin. Hal ini terlihat dalam penggambaran
Mesir dengan kedetailan yang tinggi, dari model bangunan, huruf-huruf kuno Mesir
(yang ia tampilkan di salah satu bagian), pencitraan ritual-ritual keagamaan,
cerita-cerita mistis masyarakat Mesir pada waktu itu. Semuanya diceritakan
dengan data dengan akurasi yang dapat dipercaya. Membaca novel ini, pembaca
akan seperti membaca sejarah Mesir sendiri. Namun, ada satu hal yang menjadikan
cerita dalam novel ini kurang menggigit, citraan Mesir seolah tampak agak pudar,
dalam konteks Mesir jaman dahulu tentunya. Di balik kedetailan cerita yang
Drake suguhkan, terutama ketika penulis menggambarkan kemodernan Arketaten,
Mesir nampak begitu terlampau Modern. Hampir-hampir saya dapat dilihat
Arketaten sebagaisalah satu kota yang ada di zaman ini. Ketika membaca novel
ini penulis merasakan bahwa sudut pandang yang dipakai Drake lebih didominasi
citraan yang dilihat dari konteks kekiniannya, dari pada citraan dari sudut
pandang kelampauan Mesir itu sendiri. Dengan catatan, penulis hanya membaca
terjemahan novel ini, tanpa membandingkannya dengan yang asli.
Kritik-kritik sosialHal menarik lain yang
novel ini suguhkan adalah kritik sosial di dalamnya. Hampir di setiap alur
cerita, kritik-kritik sosial itu dinampakkan begitu jelas. Kebusukan
aktor-aktor politik, kemiskinan, kesenjangan sosial, penindasan, dan semua yang
menunjukkan kesewenang-wenangan. Kesenjangan sosial antara para bangsawan
dengan rakyat biasa menjadi tema pokok dalam novel ini. Di mana para bangsawan
hidup mewah di dalam kota, sedangkan rakyat kecil harus tinggal manjadi kaum
terpinggirkan di negerinya sendiri. Kemudian digambarkan pula, sentralitas
Arkhetaten, yang semua berujung di ibukota Mesir ini. Hasil bumi, wanita,
budak, dan semua yang dibutuhkan dikirim ke ibukota. Namun, ketika sub-sub kota meminta bantuan kepada
pusat karena serangan lawan, pemerintahan pusat pura-pura tak tahu.
Gambaran-gambaran kesenjangan-kesenjangan sosial ini begitu apik dilukiskan
Drak. Menggugah dan menyadarkan kita akan realitas yang ada. Melalui novel ini
relita di sekitar kita yang penuh tipuan, kebohongan, dan kepalsuan seakan
dibongkar Drak dengan lugas. Dan menurut hemat penulis, kritik sosial ini
begitu mengena pada objek yang ditujunya. Hampir semua tema kehidupan dibawa serta dalam novel ini, dari tema
keagamaan, sosial, politik, ekonomi, dan budaya, namun kedua bahasan (kritik
sosial dan feminisme) itulah, yang penulis tangkap sebagai bagian terpenting
pada pesan yang ingin disampaikan Drak pada pembaca. Beberapa intrik di dalam
novel ini, akan membawa pembaca pada
pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan membaca habis ceritanya.