RESENSI BUKU: MATAHARI DI ATAS GILLI
Bagian 2
Judul : Matahari di Atas Gilli (revisi)
Jenis : Novel
Penulis : Lintang Sugianto
Penerbit : Republika, Jakarta, 2007
Isi : vi + 547 halaman
Negeri di bawah matahari
Novel ini pun mengingatkan saya pada Pulau Gilli Raja, satu dari ribuan pulau-pulau kecil di Indonesia. Kenapa Pulau Gilli? Apakah karena Lintang pernah di sana, dan sulit melepas kenangan pada pulau kecil itu? Kenapa tidak Jakarta yang lebih menjurang? Bukankah malah akan lebih tajam pesan yang tersirat dari buku ini? Entahlah, tapi mungkin saja karena ada cinta yang sederhana. Cinta yang tertuang saat Lintang memilih Pulau Gilli sebagai latar alam kisah Suhada di novel ini. Pulau Gilli seakan terbit lengkap dengan bayangan masa lalu dan wajah kekiniannya. Penceritaan manis lewat anak-anak yang lahir dari rahim sebuah pulau kecil, orang-orang Gilli.
Satu hal yang menurut saya luar biasa adalah hadirnya teks lagu “Indonesia Raya” di novel ini. Penggambaran nasionalisme yang sederhana. Nasionalisme yang terasa di sini tak mengotori warna merah putih, melainkan hadir dalam warna mata para penerus bangsa. Warna yang lebih sering diabaikan dan disalahmanfaatkan, ketimbang dikagumi keindahannya. Juga lagu “Ngapote” -lagu ‘wajib’ anak-anak Gilli- yang turut membawa khasanah keberagaman Indonesia. Hanya, mengapa “Ngapote” dinyanyikan lebih dulu? Dan bukan lagu Indonesia raya?
Dalam novel ini, terbaca kelihaian Lintang melompat dari satu scene adegan ke adegan lain. Setiap adegan itu membawa momen yang unik pula dengan wangi ke-Indonesia-an yang sama. Dan, salah satu momen yang menarik, bagi saya, adalah saat Suhada ‘bercakap’ dengan kambing. Dari sana karakter Suhada juga diperjelas. Memanglah, panggilan untuk melayani adalah kekhasan Suhada yang sudah begitu adanya. Sederhana, tapi cukup ampuh. Mungkin agak pelik untuk sebagian orang, tapi, come on, siapakah diantara kita yang tak pernah ‘bercakap’ dengan binatang? Kucing peliharaan, misalnya?
Ada hal lain, di antara beberapa kesalahan cetak yang masih baik-baik saja. Adegan yang menghadirkan dua turis India (hal. 440-442) seperti sekadar bumbu penyedap dalam novel ini. Pun tiada, masih menguatkan kehadiran Buk No dan Sabam. Kedatangan yang sepintas dan tak meninggalkan jejas makna ini (selain kesamaan ritual menyembahkan bunga ke laut) masih bisa dipoles lagi. Tentang Dewi Durga? Sepertinya boleh juga.
“Baginya, pulau ini serupa zigot yang selalu gemetar ketakutan menjadi embrio.” (hal. 161)
Ditambah lagi beberapa penggal adegan yang bermain-main dengan pikiran saya. Ada jeda antara ‘sangka’ dengan ‘ternyata’ lainnya (hal. 379-389; 528-520) diselipkan dalam novel ini. Jeda yang menunjukkan bahwa hidup tak selalu sepakat dengan yang jamak orang sebut sebagai wajar dan waras.
Jakarta, 2007
Resensi lain tentang Matahari Di Atas Gilli [2]