Halaman Utama Shvoong > Buku > Novel > The Icarus Girl

.

The Icarus Girl

Summary rating: 4 stars 9 Tinjauan
Pengarang : Helen Oyeyemi
Review by : FreeWilly
Kunjungan: 274
kata: 900
Diterbitkan di: September 24, 2007
Barangkali
sebagian dari kita pernah memiliki teman khayalan saat kita masih kecil
dahulu. Menurut ilmu psikologi, itu adalah gejala kejiwaan yang wajar
terjadi dan hampir setiap anak mengalaminya. Dalam
novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng karya Jostein Gaarder,
tokohnya juga punya seorang teman khayalan yang terus "ada" sampai si
tokoh dewasa dan tua. Teman khayalannya itu seorang lelaki kecil
setinggi satu meter dan selalu membawa-bawa tongkat. Ia muncul biasanya
pada waktu sang tokoh membutuhkan guna menyelamatkannya dari situasi
tertentu yang dirasa tidak aman dan tidak nyaman. Begitu juga
dalam A Beautiful Mind, kisah nyata kehidupan John Nash, pemenang nobel
bidang ekonomi yang harus dirawat di rumah sakit jiwa karena dianggap
mengidap kelainan jiwa. Ia mempunyai seorang teman khayalan, gadis
kecil pirang dengan bonekanya. Dari kedua buku tersebut,
kiranya teman khayalan itu tidak hanya milik anak-anak kecil saja dan
pada tahap tertentu hal tersebut bisa jadi merupakan penyakit kejiwaan. Novel
The Icarus Girl garapan Helen Oyeyemi juga bercerita seputar teman
khayalan seorang gadis cilik, Jessamy Harrison. Jess, demikian gadis
itu disapa, baru berumur delapan tahun, beribukan Sarah asal Nigeria
dan ayah Daniel Harrison, orang Inggris asli. Untuk ukuran
gadis 8 tahun, Jess tampak sedikit "berbeda" dibandingkan teman-teman
seusianya. Ia pendiam, suka menyendiri, dan senang sekali membaca
(novel favoritnya : Little Women). Sebagai peranakan kulit hitam, ia
kerap mendapat masalah dalam pergaulan dengan teman-teman di
sekolahnya. Ia tidak suka kelasnya. Ia merasa jauh lebih nyaman berada
di dalam lemari pakaian ibunya daripada di dalam kelasnya. Suatu
hari, ia bersama kedua orang tuanya pergi mengunjungi kakeknya di
Nigeria. Sebenarnya ia sudah menolak ikut, akan tetapi ibunya ingin
mereka semua pergi dan berkenalan dengan keluarga besarnya di Nigeria.
Jess tidak pernah menduga, di Nigeria ini ia bertemu dan bersahabat
dengan Titiola (yang kemudian dipanggilnya TillyTilly). TillyTilly
muncul pertama kali di Rumah Anak Laki-laki, yakni satu unit bangunan
tua dan lapuk yang sudah tidak pernah dipakai lagi. Letaknya tidak jauh
dari rumah induk keluarga besar kakeknya. Sejak itu mereka pun berikrar
untuk saling setia sebagai sahabat. Persahabatan mereka terus
berlanjut hingga Jess kembali Ke London, Inggris. Beberapa hari setelah
kepulangannya, TillyTilly muncul dengan rok kotak-kotak hijau putih
seperti murid sekolah. Jess yang senantiasa merasa kesepian dan sendiri
tentulah gembira sekali dengan kehadiran "temannya" itu. TillyTilly
benar-benar memenuhi janjinya untuk selalu setia. Ia bahkan membalaskan
sakit hati Jess pada teman-teman dan guru yang suka mengejeknya. Karena
TillyTilly tidak terlihat oleh orang lain, maka Jess-lah yang harus
menanggung segala akibat perbuatan TillyTilly yang menjadi sangat
posesif. Lama-kelamaan perilaku Jess semakin terlihat aneh. Di
sekolah dan di rumah selalu saja mendapat masalah. Akhirnya, ibunya
membawa Jess ke seorang psikolog, Dr. McKenzie, yang mendiagnosis
kasusnya sebagai kasus multiple personality disorder atau kepribadian
ganda. Kesimpulannya, TillyTilly itu adalah alter ego Jessamy yang
muncul setiap kali Jessamy merasa terancam dan marah. Novel
(psikologi) yang menarik dengan racikan bumbu thriller lumayan
menegangkan. Setidaknya berhasil memicu rasa penasaran pembaca akan
bagaimanakah akhirnya, terutama demi mengetahui apa atau siapakah
sebenarnya TillyTilly. Betulkah ia hanya teman khayalan atau satu
kepingan pribadi Jessamy yang terbelah? Atau lebih jauh lagi, ia adalah
arwah penasaran yang merasuki raga dan jiwa Jessamy? Ketegangan
terbangun sedikit demi sedikit seiring dengan perubahan karakter
TillyTilly dari seorang gadis manis menjelma posesif dan kejam. Kita
dibuat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Salah satu
faktor yang membuat novel ini menarik adalah karena tokohnya anak-anak.
Rasanya, adakepolosan dan kejujuran tersendiri yang tidak terdapat
dalam cerita-cerita dengan tokoh orang dewasa. Ingat saja misalnya, To
Kill A Mockingbird (Harper Lee) atau Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi). Dalam
novel ini, Helen Oyeyemi sempat menyinggung perihal rasialisme yang
terjadi di Inggris. Ia juga mengangkat budaya dan tradisi Nigeria untuk
mendukung cerita agar tersedia alasan dan penjelasan logis di
bagian-bagian yang bersifat mistis. Helen Oyeyemi adalah
penulis kelahiran Nigeria (1984) yang kemudian menetap di London,
Inggris. The Icarus Girl merupakan karya debutannya yang ia tulis saat
masih duduk di bangku SMU.
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.