Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis - The Boy in the Striped Pyjamas
Summary rating: 4 stars
4 Tinjauan
Kunjungan:
124
kata:
600
Diterbitkan di: September 20, 2007
Bruno, langsung memutuskan untuk tidak menyukai tempat tinggalnya yang
baru. Berbeda dengan rumah lamanya di Berlin, yang bertingkat 5,
keadaan sekeliling yang ramai dan juga dengan tiga orang sahabatnya. Di
rumah barunya ini, tidak ada tetanga di kiri-kanannya, bahkan seolah
tanpa penghuni, satu-satunya rumah yang terlihat adalah rumah di
seberang yang sepi dan tandus. Hampir tidak ada orang di sekitarnya.
Benar-benar membosankan, karena tidak ada teman yang bisa diajaknya
bermain.Ibu Bruno tidak mau berkata apa-apa soal kepindahan
mereka. Yang pasti, kata Ibu Bruno, mereka harus ikut ke tempat tugas
ayah Bruno yang baru.Bruno adalah anak yang senang menjelajah,
bahkan ia punya cita-cita jadi penjelajah, ia menemukan sebuah jendela
di mana dari sana ia bisa melihat keadaan di rumah satunya. Ia melihat
ada begitu banyak orang yang berada di balik pagar. Hanya ada laki-laki
dan anak-anak. Ke mana para perempuan? Dan mereka mengenakan baju yang
sama yaitu piama bergaris-garis. Menurut Bruno, tentu menyenangkan bisa
memakai piama seharian.Bruno semakin tidak menyukai rumah
barunya. Bruno tidak punya teman. Bruno malas mengajak Greta, kakaknya
yang Benar-Benar Payah itu bermain. Belum lagi, ia tidak pergi ke
sekolah. Orang tuanya malah memanggil guru untuk belajar di rumah.Bruno
memutuskan untuk melakukan penjelahan ke sekeliling rumahnya. Ia pun
menyusuri pagar. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah titik yang
akhirnya menjadi seorang anak laki-laki yang sedang merenung di balik
pagar.Mereka pun berkenalan. Anak laki-laki itu bernama Shmuel,
yang ternyata berulang tahun di hari yang sama dengan Bruno. Tentu saja
Bruno senang mendapatkan teman yang sebaya dengannya.Tapi,
berbeda dengan Bruno, Shmuel selalu tampak sedih, kurus dan murung.
Mereka berdua berusaha memahami dunia mereka masing-masing. Bruno ingin
sekali mengundang teman barunya itu ke rumah, atau bahkan Bruno ingin
mengunjungi teman barunya itu di balik pagar. Bruno menganggap Shmuel
lebih beruntung karena di balik pagar ada banyak anak laki-laki yang
bisa jadi teman bermain, sementara dirinya sendiri hanya bersama kakak
perempuannya yang Benar-Benar Payah.Buku ini sebenarnya sangat menyedihkan. Menggambarkan suasana di Kamp Auschwitz atau yang disebut
Bruno, Out-With. Gimana kejamnya The Fury dan para tentaranya. Tapi,
semakin menyedihkan karena digambarkan dari pandangan polos dua orang
anak yang gak tau apa-apa. Yang ada pikiran mereka hanyalah mencari
pertemanan dan persahabatan.