"Kau tak perlu takut. Cinta tidak berakhir, hanya karena kita tidak
saling bertemu... Bukankah orang tetap mencintai
Tuhan, meski seumur
hidup mereka tak pernah bertemu denganNYA?" "Bukan seperti itu cinta
kita." "Kadang-kadang aku tak percaya ada cinta yang lain dari itu."
Maurice Bendrix, seorang novelis, dan Sarah, istri sehabatnya,
menjalin cinta
rahasia penuh gairah di tengah masa perang di London.
Suatu hari, tanpa penjelasan maupun peringatan apa pun, Sarah
mengakhiri hubungan itu.
Tampaknya mustahil ada pria lain di hati Sarah. Terbakar
kebencian, kecemburuan, kepedihan,
sekaligus cinta yang obsesif, dua
tahun kemudian Bendrix menyewa seorang detektif untuk membututi Sarah
sekaligus mengungkap alasan kepergiannya dulu.
Dan kebenaran yang ditemukannya meruntuhkan kesombongan,
mencabik-cabik ketidakpercayaannya pada Tuhan, bahkan memaksanya
berseteru dengan Yang Mahakuasa itu.
Dan ketika ia berteriak, "Aku membencimu, Tuhan. Cukup sudah
yang Engkau lakukan. Cukup sudah Engkau merampas dariku, aku terlalu
lelah dan tua untuk belajar mencintai, jangan ganggu aku.
Selamanya,"akankah Tuhan betul-betul meninggalkannya?