Jangan baca
buku ini kalau anda tak ingin jadi pembunuh! David Chapman, Sang Pembunuh John Lennon (bintang The Beatles), konon memegang buku ini ketika meletupkan pistol yang pelurunya bersarang di tubuh Lennon. John Lennon pun mati.
Buku ini juga memicu hasrat John Warnock Hinkley, Jr. hingga berniat melakukan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat, Ronald Reagen.
Tentu pendapat mengenai kaitan antara buku dan perilaku seseorang layak untuk diperdebatkan. bahkan, diragukan.
"Buku hanya sedikit memengaruhi," tutur Yusi Avianto Pareanom, penyunting terjemahan buku ini
dalam bahasa Indonesia, "untuk sampai pada aksi nyata, itu sangat tergantung pada kondisi lingkungan yang terbangun dan cara pandang seseorang.
The Catcher in the Rye sendiri sebenarnya hanya sebuah
novel sederhana. Sang Tokoh, Holden Caufield adalah seorang remaja yang menginjak masa pubertas. Seorang remaja yang "bermasalah", setidaknya dalam dunia bersekolah, yang karenanya ia harus keluar-masuk dari
sekolah satu ke sekolah lainnya.
Semua yang dilakukan
orang lain, SALAH! Begitulah setidaknya pemikiran Holden. Karenanya juga, remaja yang terbilang cerdas ini tak pernah jatuh cinta pada sekolahnya. Ada saja yang membuat dia mual. Mulai dari sistem pendidikan, biaya sekolah, pembedaan perlakuan kepala sekolah terhadap tiap-tiap orang tua murid, bahkan sampai jatah makan di asrama yang hanya membaik ketika waktu kunjungan orang tua tiba.
Alur cerita novel ini sangat sederhana. Lurus saja. Yang menarik, penulisnya mampu menulis cerita dalam setting waktu yang hanya memakan waktu 3 hari, namun penuh dengan kejutan, keindahan penuturan, meski sama sekali tak puitik. Sang penulis, J.D. Salinger, dengan ciamik membawa pembaca mengetahui karakter-karakter orang-oran di sekitar Holden. Membaca buku ini kita seperti mengenal langsung orang-orang yang ada dalam cerita ini, kita seolah bisa mencium bagaimana aroma kamar-kamar di asrama sekolah sana.
Garis besar cerita ini tak jauh-jauh dari cara pandang sang tokoh. Semua yang dilakukan orang lain, SALAH! Sampai-sampai ia bermaksud memutuskan minggat dari sekolah (sebenarnya ia sudah tahu bahwa ia akan dikeluarkan), kabur dari rumah, pergi ke tempat terpencil dimana sama-sekali tak ada orang yang mengenalinya. Masalahnya justru bertambah ketika ia merasa harus mengabarkan rencana kepergiannya kepada adiknya, Phoebe; satu-satunya orang yang ia cintai -- selain adiknya yng sudah meninggal dunia.
The Catcher in the Rye sebuah novel
psikologi yang amat dahsyat. Penuh pergolakan emosi seorang remaja pubertas di Amerika Serikat. Karenanya novel yang sempat dilarang dan kemudian jadi buku bacaan wajib bagi siswa sekolah AS ini patut untuk menyita waktu kita.
Penerjemahannya ke Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Banana Publisher juga amat berhasil. Banyak kata-kata pilihan sang penerjemah dan penyunting benar-benar di luar dugaan. Ada yan tak akrab dengan telinga kita. Tapi juga ada kata yang sangat akrab bagi telinga yang ''gaul'', misalnya saja, ada sebuah coretan dinding yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ''Ng**tot, lu!" Anda pasti bisa menduga dalam bahasa aslinya apa?
Resensi lain tentang The Catcher in the Rye