Beijing Doll
Sebagai buku yang sempat dilarang di Cina, Beijing Doll, memiliki magnet untuk terus dibaca. Buku
ini menceritakan kehidupan
remaja Cina di persimpangan rock and roll.
Dengan gaya penceritaannya semi-memoar, kisah sepenggal kehidupan seorang remaja Cina pada era 1990-an ini memadukan dua
hal yang menarik; pemberontakan terhadap tata nilai di lingkungannya dan kenaifan tokohnya. Beijing Doll
juga racikan cerita tentang betapa susahnya menjadi remaja Cina pada era dimana infiltrasi barat dengan icon-icon, KFC, Mc. Donald, Converse, dan musik rock & roll, serta ‘kebebasan’.
Kisah di dalam buku ini mirip potret gamblang remaja Cina yang dituturkan secara jujur. Ada pemberontakan, ada kepatuhan, dan ada pula kepalsuan. Chun Sue bukan hanya mengkritik tata nilai tradisional dan dunia pendidikan, tapi juga mengkritik topeng yang dikenakan para pengaku seniman.
Lelaki yang merenggut kegadisannya, Li Qi, tak lebih seorang bermental borjuis bermantel proletar. Seniman yang tidak melakukan apa-apa kecuali makan dan menunggu matahari terbit.
Kata Chun Sue, “Negara ini dipenuhi oleh gadis-gadis yang sudah jatuh ke dalam idealisme palsunya (Li Qi) dan berjejeran menunggunya... (Hal. 68). Zhao Ping, vokalis band W, kekasih Chun Sue berikutnya juga demikian. Hidupnya tidak jelas tetapi selalu mengimpikan kekayaan dan kepopuleran (Hal. 138).
Hanya saja, kisah yang cukup menarik ini sedikit tercederai oleh terburu-burunya perpindahan masalah ke masalah lain, lompatan dari setting satu ke setting lain, tanpa menimbulkan kesan yang cukup dalam pada setiap lompatan.
Resensi lain tentang Beijing Doll