Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Eldest

oleh: TheWhiteWay     Pengarang : Christopher Paollini
ª
 

Novel Eldest merupakan lanjutan dari novel yang sangat imaginatif yakni Eragon. Eldest sesuai dengan terjemahannya merupakan arti dari pemberian dari yang tertua. Plot Novel ini paling banyak menggambarkan tentang pematangan sihir Eragon di tangan para Elf, bagaimana Eragon dilatih sang Cacat yang Utuh yakni Penunggang Naga yang sudah sangat tua dan Naganya yang luar biasa besar, berwarna emas berkilauan dan dengan tungkai kaki yang patah.


Kisahnya dimulai dari panggilan gaib dari sang penunggang tua dan naganya yang menamakan dirinya sang utuh yang cacat. Setelah pertempuran di Farthen Dur tempat para pejuang Elessmerra , daratan penuh sihir dengan penunggangnya. Eragon bergegas ke Elesmerra sesuai dengan panggilan gaib dibantu oleh Arya sang Elf yang diketahui sebagai putri dari ratu Elf Islanzandi.

Di Ellesmerra, Eragon dan Shapira naganya yang berwarna biru bertemu dengan kaum Elf yang halus, lincah dan secara umum memiliki ketangkasan dan kelincahan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Dalam pelatihannya di Ellesmerra, hutan yang masih magis dengan kaum yang sangat menghargai asal usul dari sihir, Eragon sering mengalami kegagalan-kegagalan terkait dengan sifat dasar fisiknya yang tidak sebanding dengan para pejuang Elf dan luka yang dideritanya saat pertempuran di farthen Dur.

Masih di Ellesmerra, dia menemukan berbagai pengalaman sihir dan pengendalian sihir. Terutama di tangan

Oromis sang guru yang berusia hampir seribu tahun. Shapira dan Eragon diajari berbagai hal terutama tentang hakikat sihir dan bagaimana cara untuk menghargainya. Bagaimana cara untuk menghargai alam dan isinya termasuk pohon pohon dan semua mahluk.

Di novel ini Eragon mengalami perubahan fisik yang sangat drastis dimana dia mengikuti upacara yang diinisialisasi oleh kaum elf, yang disebut sebagai ritual sumpah darah. Perubahan setelah ritual ini sangat signifikan pada perubahan fisik Eragon, kuping bertambah panjang layaknya Elf dan tubuhnya menjadi lebih ramping dan lincah, dia juga tidak lekas kelelahan dalam melafalkan sihir yang dikemudian sangat membantunya.

Shapira dan Eragon banyak berlatih menggunakan sihir, salah satu kisah dalam novel ini yang banyak mempengaruhi cerita adalah kesalahan Eragon yang memberkati seorang anak bernama Elva ketika masih bayi, tujuan eragon adalah mulia supaya sang anak dilindungi dari rundungan kegelapan dan masalah, tetapi ia malah memberkati dengan kutukan di dalamnya yaknik, Elva menjadi pelindung bagi orang-orang di sekitarnya yang dirundung masalah atau bahaya. Kutukan ini menjadikan Elva sebagai penyihir yang aneh dan punya kekuatan magis yang unik.


Pada Novel ini juga digambarkan mengenai petualangan Eragon di dunia kurcaci, dimana terdapat sambutan hangat baginya, tetapi ada juga yang menolak untuk bersikap terbuka dan bersahabat dengannya karena sejarah kelam para penunggang Naga di klas Ar-Swedin, klan yang banyak mengalami penganiayaan di bawah penunggang terkutuk belakangan Eragon membayarnya dengan memperbaiki safir kebanggangan berbentuk mawar milik para kurcaci. Selain itu, dia pun diangkat raja Kurcaci Hrotgar sebagai anaknya sendiri, jadi dia dianggap sebagai klan dari kurcaci dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama di dunia kurcaci termasuk untuk mengikuti rapat dewan kurcaci.

Pada novel ini juga dikisahkan bagaimana perjuangan Roran sepupu Eragon sepeninggalnya di Carvahal, ternyata Galbatorix mencarinya di Carvahal, imbasnya kepada seluruh penduduk Carvahal termasuk Roran yang akhirnya menjadi pemimpin penduduk desa itu ke pengungsian di markas pejuang Varden. Banyak kisah-kisah heroisme dan kehebatan dari Roran digambarkan hingga ia mendapati dirinya dengan julukan Strong Hammer, penghantap Palu yang kuat.


Masih berhubungan dengan novel pertama yakni Eragon terkait dengan hilangnya Murtagh yang diketahui sebagai anak dari kaum penunggang terkutuk Morzan yang membunuh Naga dari brom ayah Eragon, ternyata masih hidup dan dipaksa bersumpah di bawah sihir Galbatorix. Dia diserahkan oleh penyihir kembar penghianat Varden yang belakangan dibunuh secara sihir oleh Eragon.


Murtagh yang berada di bawah kendali sihir, menjadi penunggang Naga bernama Thorn, fisiknya jauh lebih kecil dibandingkan shapira namun kekuatannya sudah sama besarnya hal ini dikarenakan sihir yang digunakan Galbatorix. Pada pertempuran terakhir Oromis dan Naganya Glaedr terbunuh karena memang sudah tua,layaknya ramalan oromis sendiri.

Selain itu Eragon juga harus menderita kekalahan dan harus menyerahkan pedang warisan ayahnya kepada Murthag, yang menjadi misteri di novel ini bahwa Murtagh tidak membunuh eragon malah membiarkannya yang belakangan diketahui sebagai balas budi Murtag dan rasa persaudaraan dalam kebencian yang sulit untuk dijelaskan.

Secara keseluruhan Novel kedua ini tidak kalah dengan novel pertama dengan suguhan kisah-kisah di dalamnya yang penuh intrik dan hal-hal yang mendebarkan dan tentu saja imajinasi sihir Christopher yang tertuang secara apik di novel ini.


/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-bidi-font-family:"TimesNew Roman";} /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-bidi-font-family:"TimesNew Roman";}
Diterbitkan di: 18 April, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.