Lingkar Tanah Lingkar Air
Lingkar Tanah Lingkar Air adalah sebuah novel sejarah besutan sastrawan
kondang, Ahmad Tohari. Novel yang pernah diterbitkan oleh penerbit di
Purwokerto dan kemudian diterbitkan ulang oleh LkiS Yogyakarta ini menceritakan
salah satu kisah sejarah tentara NII (Negara Islam Indonesia). Sebenarnya,
novel yang mengambil sudut pandang orang pertama tunggal sebagai pencerita di
sini begitu seimbang. Pertautan antara Tentara dengan ideologi Komunis, Islam
dan Republik. Si penutur, sebagai warga negara Indonesia dan mencintai
republiknya mendapatkan fatwa dari tokoh agama setempat (Hadratus Syaikh) untuk
bahu-membahu jihad melawan penjajah Belanda. Hal itu juga kian kukuh dengan
ucapan Kiai Ngumar, orang yang dihormati di kampungnya. Tapi entah apa, tanpa
kabar berita, yang ketika itu si penutur bersama beberapa kawannya yang
tergabung dalam divisi Hizbullah saat akan memulai perjalanan bergabung dengan
tentara republik di Purworejo, saat hampir sampai di Kebumen, tiba-tiba
ditembaki ketika masih dalam kereta. Merekapun mundur dan merasa bahwa mereka
telah dikhianati Republik. Meskipun mereka sebenarnya tidak tahu pasti siapa
tentara yang telah menembaki mereka. Pihak Republik atau pihak Komunis.
Amid (penutur), Jun dan Kirman sebagai bagian dari tentara Hizbullah yang
merasa dikhianati akhirnya harus pontang-panting lari masuk keluar hutan.
Ditambah lagi, di luar hutan dan di perkotaan tersebar kabar bahwa Kartosuwirjo
telah dituduh pengkhianat karena memimpin Tentara Islam Indonesia (TII) untuk
membentuk Negara Islam Indonesia. Mereka, yang sebenarnya tidak tahu apa-apa
dan telah merasa dikhianati akhirnya membulatkan tekad untuk bergabung sekalian
dengan TII yang sesuai dengan ideologi Islam yang mereka anut.
Selama mereka didalam hutan dan menjadi wong alasan (orang hutan),
mereka harus bertahan hidup dalam kondisi represif. Mereka dituduh sebagai
pemberontak, diburu oleh tentara Republik sekaligus oleh tentara Komunis.
Mereka juga dituduh sebagai pemberontak yang telah merampas kampung-kampung
dekat dengan hutan meskipun sebenarnya mereka tidak melakukannya. Dalam novel
ini, meski tidak secara tersurat disebutkan bahwa pihak tentara Komunis yang
sebenarnya melakukan perampokan dan perampasan di kampung-kampung dekat hutan
dan mencatut serta mengatas namakan TII, tapi kalimat-kalimat yang dibangun
Ahmad Tohari merujuk kesana. Stigmatisasi yang ingin dibangun oleh tentara
Komunis adalah agar warga dan penduduk kampung lain percaya dan semakin
membenci serta mengkuhkan bahwa TII itu adalah pemberontak.
Kisah dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air ini tragis. Dengan pilihan
menciptakan sad ending semakin membuat novel ini impresif. Kisah
bertabur airmata dibangun untuk mencoba menggambarkan bahwa tiga belah pihak
(TII, Republik, Komunis) sebenarnya sama-sama memiliki kesalahan. Meski begitu,
secara tersirat, kesalahan lebih menjurus pada pihak Komunis. Detail pengarang
dalam membangun kalimat-kalimat dengan paparan daerah-daerah terpencil dan
hutan-hutan begitu memukau.
Lebih menariknya novel ini adalah ketegangan-ketegangan yang terus disusun
dan diciptakan dalam tiap plot yang mengalir. Permasalahan yang dipaparkan dan
sumber masalah yang tidak tahu dimana ujung pangkalnya, kesengsaraan Amid, Jun
dan Kirman ditengah belantara hutan, dan istri Amid yang harus dilarikan ke
hutan dan melahirkan disana membuat cerita sedikit berbumbu roman-melankolia.
Meski akhirnya tokoh-tokoh utama (Amid, Jun dan Kirman) harus menghadapi takdir
kefanaan (mati) dengan mengucap kalimat tauhid, tapi Lingkar Tanah Lingkar Air menegaskan
bahwa (mereka para TII yang tidak tahu seluk-beluk TII) apa yang mereka yakini
dan perjuangkan sebenanya adalah murni untuk bangsa sebagai bukti pengamalan
ajaran agama.